Fakta Tentang Panas Dalam yang Mirip Gejala Covid 19

BITNews.id – Tak dapat dipungkiri bahwa pandemi membuat masyarakat lebih sadar dan cepat tanggap jika mengalami gangguan pada kondisi tubuh, apalagi ketika yang dirasakan bersinggungan dengan gejala COVID-19, seperti sakit tenggorokan.Namun tak sedikit pula yang menganggap remeh dan berkata bahwa sakit tenggorokan hanyalah efek dari panas dalam. Alih-alih mencari tahu dan berusaha menyembuhkannya, mereka malah abai.

Ya, memang panas dalam dan gejala COVID-19 memiliki persamaan; mulai dari sakit tenggorokan, hingga merasa mudah lelah dan tidak enak badan (fatigue). Namun, walaupun sama, keduanya tetap mempunyai perbedaan.

Dalam talk show virtual bertajuk “Tantangan Paling Adem: Panas dalam x Pandemic”, dr. Shabrina menjelaskan bahwa istilah “panas dalam” sendiri tidak masuk dalam dunia medis. Kondisi yang digambarkan oleh masyarakat sebagai “panas dalam” juga sebenarnya bukanlah suatu penyakit, melainkan kumpulan gejala dari penyakit di tenggorokan, atau gejala awal dari infeksi virus maupun bakteri.

Baca Juga :  Bupati Romi Haryanto Membuka Event Zabag Bhayangkara Race 2021

Panas dalam tidak diikuti debgan sesak nafas

Sama seperti infeksi lainnya, panas dalam juga dapat membuat suhu tubuh ikut naik. Sebab, saat suhu tubuh naik, tubuh sedang berada dalam masa “perlindungan” guna membunuh virus atau bakteri yang masuk. Namun, bagaimana dengan sesak napas?

“Biasanya panas dalam itu diikuti oleh serangkaian gejala penyakit, mulai dari sakit tenggorokan hingga naiknya suhu tubuh.Tapi panas dalam tidak diikuti oleh gejala sesak napas. Jadi, jika ada sesak napas, dapat segera melakukan langkah antisipasi dengan melakukan tes COVID-19 sesegera mungkin,” tutur dr. Shabrina.

Baca Juga :  Danrem 081/DSJ Minta Anggotanya Waspadai Omicron dan Bencal

Kehilangan kepekaan indera penciuman dan perasa

Salah satu gejala COVID-19 yang berbeda dengan panas dalam adalah hilangnya indera pencium dan perasa. Ketika aroma dan rasa makanan sudah tidak bisa lagi tercium sama sekali, kemungkinan seseorang positif terinfeksi virus corona semakin tinggi.

“Yang kedua, panas dalam tidak menghilangkan kepekaan terhadap pencium dan perasa. Pada beberapa kasus mungkin orang-orang bisa flu karena panas dalam, tapi kalau wangi dan rasa hilang sama sekali, itu bukan,” jelas dr. Shabrina.

Baca Juga :  KSSK Antisipasi Terhadap Tantangan Global melalui Koordinasi Lebih Erat

Karenanya, kamu perlu waspada jika sudah merasakan sesak ketika bernapas dan kehilangan sensitivitas indera penciuman atau perasa. Walaupun di rumah, segera gunakan masker dan lakukan swab test atau tes PCR untuk memastikan gejala tersebut benar-benar COVID-19 atau bukan.

“Tak usah panik, tapi perlu langkah yang sigap,” ucap dr. Shabrina. (*/hn)

Penasaran? Segera tonton siaran ulangnya pada video di bawah ini

 

View this post on Instagram

 

A post shared by kumparan (@kumparancom)