Distorsi Informasi

Oleh : Fransisko Chaniago, M.Pd.

Scroll, klik, lalu bagikan. Tiga hal yang sekarang hampir dilakukan semua orang setiap hari saat membuka media sosial. Secara perlahan, cara kita menerima informasi berubah. Dulu orang menunggu berita dari televisi atau koran, sekarang cukup dari satu unggahan di ponsel.

Masalahnya, informasi yang datang tidak lagi melewati proses panjang seperti dulu. Semua bisa muncul, semua bisa viral, dan semua bisa ikut menyebar tanpa ada yang benar benar menyaring dari awal.

Meminjam pendapat Lim et al., (2024), bahwa orang di media sosial sering membagikan sesuatu karena tertarik secara emosional atau merasa informasi itu punya nilai bagi dirinya.

Jadi bukan selalu karena sudah mengecek kebenarannya. Ini yang membuat satu postingan bisa cepat sekali menyebar. Begitu menyentuh emosi, orang langsung ikut menyebarkan tanpa banyak berpikir.

Penulis menilai bahwa Informasi di media sosial lebih sering dipercaya kalau datang dari orang yang kita kenal atau satu komunitas. Teman sendiri, grup sendiri, atau akun yang sudah sering kita lihat.

Di situ rasa curiga jadi berkurang. Orang cenderung langsung percaya karena merasa “ini orang kita”. Dari sini saja, satu informasi bisa langsung pindah dari satu lingkaran ke lingkaran lain tanpa banyak hambatan.

Tandoc et al., (2020) menambahkan hal yang cukup menarik, bahwa semakin sering seseorang melihat informasi yang sama muncul di media sosial, semakin besar kemungkinan dia percaya itu benar. Padahal belum tentu begitu.

Baca Juga :  Sayangi Diri Sendiri, Sayangi Bangsa

Rasa familiar membuat otak kita merasa aman, lalu menganggap itu fakta. Padahal bisa saja itu hanya pengulangan dari sumber yang sama yang sudah menyebar ke mana-mana.

Jika dikombinasikan, pola yang semacam ini memungkinkan media sosial bekerja seperti pesan berantai yang tidak pernah selesai. Satu informasi masuk, lalu diteruskan, lalu muncul lagi dalam bentuk sedikit berbeda. Kadang dipotong, kadang ditambah, kadang hanya judulnya saja yang tersisa. Lama lama, informasi yang awalnya utuh bisa berubah jauh dari bentuk aslinya.

Di titik ini, kita masuk ke situasi yang sering disebut orang sebagai era post truth. Orang lebih mudah percaya pada cerita yang sering muncul atau yang sesuai perasaan, dibanding data yang panjang dan rumit.

Hoaks pun tidak selalu muncul karena niat buruk. Sering kali justru muncul karena informasi asli dipotong terlalu jauh lalu disebarkan ulang tanpa konteks. Dari situ maknanya pelan pelan berubah.

Dalam dunia akademis, hal ini menjadi masalah yang cukup serius. Banyak hasil penelitian sebenarnya sudah lengkap dengan data dan penjelasan yang panjang. Namun, ketika disebarkan melalui media sosial, isi tersebut sering kali disederhanakan menjadi satu atau dua kalimat saja, biasanya hanya bagian kesimpulannya.

Akibatnya, pembaca tidak mengetahui proses penelitian secara utuh, melainkan hanya memahami hasil akhirnya. Contoh yang lain seperti dalam penulisan karya ilmiah, yaitu ketika penulis memparafrase pendapat ahli yang diambil bukan dari sumber aslinya, melainkan dari tulisan lain yang juga mengutip sumber yang sama.
Bahkan, kutipan asli tersebut bisa diparafrase kembali secara berulang dari berbagai tulisan. Hal ini dapat menyebabkan pergeseran makna dari isi aslinya. Kondisi ini sering disebut sebagai “kutipan berlapis” tanpa merujuk langsung pada sumber utama atau buku induk (buku babon). Masalahnya, dalam proses seperti ini, makna bisa bergeser. Informasi yang seharusnya memerlukan kehati-hatian, berubah jadi seolah olah pasti dan berlaku umum.

Baca Juga :  Mau Dibawa Kemana Tanjab Timur?, Mau Jadi Daerah Tujuan Ataukah Daerah Tanpa Tujuan

Dari sini muncul apa yang bisa disebut sebagai kecelakaan informasi. Bukan karena satu kesalahan besar, tapi karena banyak orang ikut menyebarkan tanpa sadar telah mengubah sedikit demi sedikit isi aslinya.
Hal lain yang memperkuat ini adalah cara kerja media sosial itu sendiri.

Konten yang ramai biasanya akan terus didorong muncul ke lebih banyak orang. Jadi begitu satu informasi mulai viral, penyebarannya bisa makin luas tanpa harus dicek ulang. Kecepatan jadi lebih penting daripada ketepatan.

Di sisi pengguna juga ada peran besar. Orang lebih cepat membagikan hal yang memancing emosi. Misalnya yang bikin kaget, marah, atau takut. Dalam kondisi seperti ini, orang sering tidak sempat berhenti untuk mengecek sumbernya. Yang penting cepat menyebar dulu.

Tapi bukan berarti media sosial selalu buruk. Banyak juga penelitian yang menunjukkan bahwa media sosial membantu menyebarkan pengetahuan lebih luas. Orang jadi lebih mudah mengakses hasil penelitian atau informasi ilmiah.

Baca Juga :  Pemberdayaan Desa: Dari Regulasi ke Realisasi Menuju Indonesia Emas 2045

Masalahnya ada di cara penyampaian dan cara orang memahaminya.
Di sini peran akademisi jadi penting, tapi sering kali kurang terasa di ruang publik. Banyak penelitian bagus berhenti di jurnal yang tidak mudah diakses atau bahasanya terlalu teknis.

Akhirnya masyarakat lebih banyak menerima versi singkat dari media sosial dibanding penjelasan lengkap dari sumber aslinya. Kalau dibiarkan, jarak antara dunia akademis dan masyarakat akan terus melebar. Satu sisi punya data dan pengetahuan, sisi lain punya arus informasi yang cepat tapi tidak selalu tepat.

Sebagai akademis tentu harus sigap mengambil alih bahwa sebagai akademisi sebenarnya punya tanggung jawab yang lebih dari sekedar menulis penelitian. Ada kebutuhan untuk ikut hadir di ruang publik, menjelaskan hal rumit dengan cara yang lebih sederhana.

Bukan menurunkan kualitas ilmu, tapi membuatnya bisa dipahami lebih banyak orang. Sementara itu, masyarakat juga tidak bisa hanya pasif. Ada kebiasaan kecil yang penting, seperti tidak langsung membagikan informasi, mengecek dari sumber lain, dan sedikit menahan diri ketika informasi terasa terlalu emosional.

Penulis memiliki asumsi bahwa media sosial tidak akan berhenti. Informasi juga tidak akan melambat. Yang bisa berubah hanya cara kita memperlakukannya. Kalau semua pihak lebih hati-hati, rantai informasi ini bisa jadi lebih sehat. Tapi kalau tidak, pesan berantai ini akan terus berjalan tanpa arah yang jelas dan makin sulit dikendalikan.