Profesor yang Baik Hati

Oleh : Fransisko Chaniago, S,Sos., M.Pd.

Tulisan ini lahir dari percakapan panjang dengan seorang profesor yang berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya hingga meraih gelar Profesor. Dari kisah yang diceritakannya, akan penulis sajikan dalam  bentuk narasi yang ringan dan mudah dipahami oleh pembaca.

Gelar profesor bukanlah sesuatu yang gampang dan datang begitu saja. Gelar profesor bukan juga hadiah yang dijatuhkan dari langit, bukan pula warisan yang bisa di bola pimpongkan dari orang tua ke anak. Gelar profesor ini merupakan hasil dari perjalanan panjang yang tidak semua orang sanggup menggapainya. Secara ontologis, sangat memungkinkan bahwa gelar profesor ini bukan sekedar label sosial, melainkan wujud nyata dari sebuah eksistensi yang telah dibuktikan melalui perjalanan panjang untuk menggapainya. Ribuan halaman jurnal dibaca, ratusan penelitian dikerjakan, puluhan sidang dihadapi. Hakikat seorang profesor terletak bukan pada nama yang tercetak di kartu identitas, melainkan pada realitas perjuangan yang sudah ia jalani dan tidak bisa dipalsukan oleh siapa pun.

Butuh waktu belasan tahun untuk sampai di titik itu. Ada banyak yang harus dikorbankan, tak mungkin pula dapat mengulang momen masa lalu terulang kembali. Semua tak terbendungkan lagi, rasa lelah dan pengorbanan yang terus membara menjadi saksi dalam setiap perjalanannya. Tak heran, ketika seseorang mampu meraih gelar profesor, ada banyak karya yang tersimpan yang dihasilkannya. Bukan hanya sekedar ilmu pengetahuan, tapi keuletan dan ketangguhan mental yang dimilikinya. Siapa pun yang pernah benar-benar menjalaninya tentu tahu, bahwa gelar profesor bukan soal status, akan tetapi, soal dedikasi yang telah dibuktikan bertahun-tahun lamanya.

Begitulah ceritanya. Yang jauh lebih penting adalah apa yang dilakukan seorang profesor setelah gelar itu resmi melekat di namanya. Ini menimbulkan pertanyaan, siapakah seorang profesor itu dalam hakikatnya? Apakah ia adalah gelarnya, atau apakah ia adalah tindakan-tindakan setiap harinya? Profesor yang sejatinya bukan yang paling keras suaranya di ruang seminar, bukan yang paling banyak foto dengan piagam penghargaan. Profesor sejati iyalah yang tetap rendah hati di tengah semua pencapaiannya. Yang masih mau duduk bersama kerabat-kerabat di bawahannya, bersama mahasiswa, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, dan menganggap proses belajar sebagai sesuatu yang tidak pernah final, bahkan untuk dirinya sendiri.

Baca Juga :  Opini : Balas Putusan 'Ngawur' MK di PSU Pilgub Jambi

Profesor sejati itu sadar bahwa ilmu tidak pernah milik satu orang. Ilmu terus bergerak, terus berkembang. Dan kadang kebenaran baru datang dari tempat yang tidak terduga, termasuk dari seorang mahasiswa semester satu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di ruang kelasnya. Kesadaran inilah yang membedakan seorang profesor dari sekedar seseorang yang kebetulan memiliki gelar tertinggi di kampus.

Salah satu tanda paling nyata dari seorang profesor yang berjiwa besar akan terlihat dari kemampuannya untuk mengakui kebenaran dari orang lain. Dan di sinilah dimensi epistemologis bekerja dengan sangat jelas. Bagaimana kita memperoleh kebenaran? Dari mana kebenaran itu datang?. Tentu kebenaran tidak pernah memilih siapa pembawanya. Ia bisa datang dari seorang ahli yang sudah menulis puluhan buku, tapi ia juga bisa datang dari mahasiswa yang baru pertama kali membuka data dan menemukan anomali yang selama ini terlewatkan.

Bayangkan sudah puluhan tahun mengajar, sudah diundang ke berbagai konferensi internasional, lalu tiba-tiba ada mahasiswanya sendiri yang menunjukkan bahwa ada celah dalam argumen yang selama ini profesor pertahankan. Bagi sebagian orang, momen seperti ini terasa seperti ancaman. Tapi bagi profesor yang benar-benar mencintai ilmu dan memahami cara kerja pengetahuan, momen itu justru terasa seperti hadiah. Profesor yang baik hati tidak akan buru-buru menolak argumen mahasiswanya sendiri hanya karena argumen itu datang dari orang yang lebih muda. Ia akan membaca, mempertimbangkan, dan kalau memang argumen itu benar, ia dengan lapang dada berkata, “Kamu benar”. Ini koreksi yang bagus”. Kalimat itu, meski terdengar ringan, sangat berat untuk diucapkan oleh orang yang sudah terbiasa menjadi yang paling tahu di ruangan.

Sayangnya, tidak semua profesor seperti itu. Ada juga tipe yang sebaliknya, yang justru menutup diri rapat-rapat ketika dihadapkan pada kebenaran yang tidak sesuai dengan apa yang sudah ia yakini selama ini. Inilah yang disebut sebagai distorsi yang serius. Ketika seseorang menolak kebenaran bukan karena ia punya argumen balik yang lebih kuat, melainkan karena ia takut malu, maka ia sudah berhenti menjadi pencari kebenaran. Ia berubah menjadi penjaga reputasi. Dan dua peran itu sangat berbeda.

Baca Juga :  Pandemi Corona

Profesor seperti ini akan merespons argumen mahasiswanya sendiri dengan melindungi diri. Kadang dengan cara yang halus, mengalihkan topik, mempersulit dengan pertanyaan yang tidak relevan, atau menggunakan otoritasnya untuk membungkam diskusi yang sudah dibangun. Kadang lebih terang-terangan, memotong pembicaraan, merendahkan, bahkan menilai rendah mahasiswa sendiri yang berani berbicara.

Ironisnya, justru inilah yang paling merusak. Bukan hanya merusak hubungan antara dosen dan mahasiswa, tapi merusak dialog ilmu pengetahuan itu sendiri. Ketika kebenaran diabaikan demi menjaga ego, ilmu tidak bisa tumbuh. Yang tumbuh hanya ketakutan dan kepatuhan semata. Mahasiswa belajar untuk diam, bukan untuk berpikir. Dan itu adalah kegagalan yang jauh lebih besar dari sekedar salah satu kali di depan kelas.

Profesor yang baik hati punya sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan gelar atau jabatan, yaitu hati nurani. Dan di sinilah dimensi terpenting masuk ke dalam percakapan. apa yang sebenarnya berharga? Apa yang seharusnya menjadi tujuan dari sebuah tindakan? Sebagai seorang profesor, pertanyaan semacam ini yang paling mendasar adalah untuk apa semua ilmu itu diperjuangkan, kalau bukan untuk kebaikan?

Profesor yang memiliki hati nurani tau bahwa perannya bukan untuk selalu menjadi yang paling benar, melainkan untuk membantu orang-orang di sekelilingnya menemukan kebenaran. Ia tahu kapan harus tegas dan kapan harus melunak. Ia tidak lupa dari mana ia berasal, tidak lupa bahwa dulu ia juga pernah menjadi biasa yang penuh pertanyaan, yang gugup menyampaikan pendapat di depan orang  banyak. Memori itu yang membuatnya bisa berempati. Dan empati itulah nilai yang paling mendasar dari seorang pendidik, nilai yang memberi makna pada seluruh ilmu yang sudah ia kumpulkan sepanjang hidupnya.

Ada satu hal lagi yang membedakan profesor yang baik hati dari yang lainnya. Karyanya berbicara lebih keras dari namanya. Nilai sejati seorang profesor tidak diukur dari seberapa sering ia disebut dalam pidato seremonial, melainkan dari seberapa besar dampak yang ia tinggalkan pada orang-orang yang pernah belajar darinya. Penting agaknya jika seorang profesor berpikir bahwa, mahasiswa yang selama ini ia ajarkan adalah karya terbaiknya. Penelitian yang memberi dampak nyata pada masyarakat adalah mahkota yang tidak perlu dipajang di dinding. Profesor seperti ini tidak membangun nama dengan cara merendahkan orang lain, melainkan dengan cara mengangkat orang lain.

Baca Juga :  Pantang Larang (2)

Ketika karyanya mengalahkan namanya, itulah tanda bahwa ia sudah benar-benar menjadi ilmuwan sejati. Ia tidak lagi hidup untuk validasi, tapi untuk kontribusi. Dan kontribusi terbesar seorang pendidik adalah ketika muridnya tumbuh menjadi pemikir yang lebih baik dari gurunya. Itulah nilai tertinggi yang bisa dicapai seorang profesor dalam hidupnya.

Jika kita diperlihatkan dengan profesor yang baik hati secara utuh, kita perlu melihatnya dari ketiga lensa yaitu, ia adalah manusia yang hakikatnya terus tumbuh dan tidak pernah berhenti menjadi pelajar, meski gelarnya sudah yang paling tinggi. Ia adalah pencari kebenaran yang jujur, yang tahu bahwa kebenaran lebih besar dari dirinya dan bisa datang dari arah mana pun, termasuk dari mahasiswanya sendiri. Dan yang terakhir, ia adalah pendidik yang nilainya diukur bukan dari seberapa banyak ia tahu, tapi dari seberapa banyak ia memberi.

Ketika mahasiswanya datang dengan argumen yang kuat dan benar, ia tidak merasa terancam, melainkan merasa bangga. Bangga karena proses belajar yang ia rancang berhasil melahirkan pemikir yang kritis. Ia akan mengakui kebenaran itu dengan tulus, memberi apresiasi, dan mendorong mahasiswanya untuk terus menggali lebih dalam.

Tapi ketika argumen mahasiswanya tidak tepat, ia tidak membiarkan kekeliruan itu berlalu begitu saja. Ia memberikan koreksi, bukan dengan nada menghakimi, melainkan dengan cara yang membangun. Ia menunjukkan di mana letak kesalahannya, menjelaskan mengapa itu keliru, dan memberi jalan agar mahasiswanya bisa memperbaiki kesalahannya sendiri.

Inilah yang membedakan guru dengan hakim. Guru ingin muridnya tumbuh. Hakim hanya ingin memberi vonis. Profesor yang baik hati paham betul bahwa ruang kelas dan ruang diskusi merupakan tempat di mana kebenaran seharusnya lebih besar dari siapa pun yang ada di dalamnya, termasuk dirinya sendiri. Ketika ia bisa memegang prinsip itu, ia tidak hanya menjadi profesor yang baik hati. Ia menjadi profesor yang benar-benar besar, yang nyata, jujur, dan hidup dalam setiap tindakannya.