JEMBER, BITNews.id – Di balik megahnya gedung rumah sakit dan statistik Universal Health Coverage (UHC) yang membanggakan, tersimpan cerita-cerita kecil yang kerap luput dari pandangan: helaan napas berat seorang pasien kurang mampu yang bingung memikirkan ongkos pulang ke rumah.
Sore itu, suasana di ruang rawat inap sebuah rumah sakit pemerintah di Jember tampak biasa.
Para perawat lalu-lalang, bau khas antiseptik memenuhi udara, dan keluarga pasien mulai membereskan pakaian ke dalam kantong plastik kresek.
Namun, tidak semua orang menyambut kepulangan dengan senyuman lepas.
Bagi sebagian warga prasejahtera, momen keluar dari rumah sakit justru menghadirkan dilema tersendiri.
Realitas pahit inilah yang disaksikan langsung oleh Bupati Jember, Gus Fawait.
Di tengah berbagai pencapaian pembangunan kesehatan daerah, ia menemukan fakta bahwa kendala transportasi masih menjadi tembok penghalang yang meresahkan masyarakat kecil seusai menjalani perawatan medis.
“Masih ada warga kita yang sakit, tapi enggan berobat atau bingung saat hendak pulang dari rumah sakit karena tidak memiliki biaya untuk menyewa kendaraan,” kata Gus Fawait.
Kisah-kisah di lapangan seringkali mengiris hati.
Tidak sedikit warga yang terpaksa mengambil risiko keselamatan dengan pulang menggunakan kendaraan roda tiga atau sepeda motor seadanya yang kurang layak, semata-mata demi menghindari tarif sewa mobil carteran yang tak sanggup mereka bayar.
Bagi mereka yang baru saja pulih dari sakit berat, perjalanan di atas kendaraan roda dua tentu bukan pilihan yang ideal, melainkan sebuah keterpaksaan.
Menyadari celah kemanusiaan ini, Pemerintah Kabupaten Jember tidak tinggal diam.
Sebuah terobosan taktis dan emosional diluncurkan: program “Mobil Cinta”.
Program ini dirancang khusus sebagai solusi nyata atas kendala mobilitas warga kurang mampu pasca-rawat inap.
Melalui program ini, Pemkab Jember memobilisasi armada khusus dari tiga rumah sakit milik pemerintah.
Armada-armada tersebut disiagakan secara khusus untuk mengantar pasien kurang mampu kembali ke rumah masing-masing secara gratis, tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Sebuah kebijakan yang baik tentu membutuhkan eksekusi yang tepat sasaran agar dampaknya benar-benar dirasakan oleh masyarakat bawah.
Untuk itu, Gus Fawait tidak hanya meluncurkan program di atas kertas, melainkan langsung menginstruksikan seluruh jajaran birokrasi mulai dari Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para camat, hingga perangkat desa untuk turun tangan aktif menyosialisasikan layanan ini.
Bagi kepemimpinan Gus Fawait, birokrasi tidak boleh berjalan dingin dan kaku.
Pelayanan publik harus dijiwai oleh nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam.
“Semua pelayanan kesehatan harus kita landasi dengan rasa cinta dan kepedulian. Saya minta tolong kepada para camat, OPD, dan seluruh jajaran untuk menyosialisasikan keberadaan Mobil Cinta ini agar warga yang membutuhkan benar-benar merasakan manfaatnya,” kata Gus Fawait.
Kehadiran “Mobil Cinta” bukan sekadar soal menyediakan kendaraan antar-jemput.
Lebih dari itu, program ini adalah manifestasi dari kehadiran negara di saat-saat paling rentan dalam kehidupan seorang warga.
Dengan meringankan beban ekonomi masyarakat sekaligus menjamin terpenuhinya hak atas layanan kesehatan yang merata dan berkeadilan, Jember kini melangkah dengan optimisme baru.
Kini, deru mesin mobil yang membawa pasien pulang bukan lagi menyisakan cemas di dada keluarga yang kurang mampu.
Ia menjelma menjadi simbol kepedulian bahwa di Jember perjalanan menuju kesembuhan dituntaskan hingga pasien benar-benar tiba dengan selamat di pelukan rumah tercinta. (Adv)
