AI Masuk Sekolah/Madrasah: Ancaman Bagi Pendidikan Atau Peluang bagi Manajemen Pendidikan Islam?

Oleh : M. Rizki Arobi

Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di dunia pendidikan telah mengubah cara guru dan peserta didik memperoleh, mengolah, dan menghasilkan informasi. Dahulu, siswa harus menghabiskan waktu berjam-jam mencari referensi di buku atau internet. Kini, berbagai informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik melalui teknologi berbasis AI.

Perubahan ini menghadirkan pertanyaan penting: apakah AI akan menjadi ancaman bagi pendidikan atau justru menjadi peluang bagi lembaga pendidikan Islam untuk berkembang?

AI memang membawa sejumlah risiko. Kemudahan memperoleh jawaban dapat membuat sebagian peserta didik tergoda untuk menyelesaikan tugas tanpa memahami prosesnya. Jika siswa hanya meminta AI memberikan jawaban kemudian menyalinnya, maka teknologi tidak lagi menjadi alat belajar, tetapi menjadi jalan pintas yang mengurangi proses berpikir.

Dalam jangka panjang, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut kejujuran akademik, tetapi juga menyentuh tujuan pendidikan itu sendiri. Pendidikan seharusnya membentuk manusia yang mampu berpikir, mempertimbangkan, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap pengetahuannya.

Dalam media banten.nu.or.id memaparkan dalam ranah Manajemen Pendidikan Islam, integrasi yang cepat ini bukan soal “jika” melainkan “bagaimana”. Mengelola lembaga pendidikan berdasarkan nilai-nilai Islam membutuhkan lensa unik, yang tidak hanya mengutamakan perkembangan kognitif (tafakkur) tetapi juga pertumbuhan spiritual dan moral (tazkiyah).

Melihat gelombang teknologi ini melalui analisis SWOT (Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman) memungkinkan kita untuk menavigasi transformasi ini secara strategis, memastikan bahwa AI melayani misi holistik pedagogi Islam dari pada merusaknya.

Sebuah penelitian pada tahun 2025 yang dipublikasikan di Academic Journal Qubahan mengonfirmasi bahwa kecerdasan buatan (AI) secara substansial memperkuat pembelajaran di ranah kognitif dan psikomotorik dalam konteks pendidikan Islam. Instrumen seperti agen percakapan AI dan platform edukasi yang menyesuaikan diri berperan dalam mempertahankan pemahaman dan pengembangan kompetensi praktis pada area spesifik seperti kaidah pelafalan Al-Qur’an (tajwid) dan simulasi tata cara ibadah salat.

Baca Juga :  Tanjab Timur Butuh Pemimpin Visioner

Bagi para pengajar, AI berfungsi sebagai penunjang administratif yang efektif. Informasi dari Cengage Group mengindikasikan bahwa 45% dosen di perguruan tinggi memanfaatkan AI untuk kreasi materi perkuliahan, dengan proporsi yang serupa menggunakannya untuk penyusunan rencana pembelajaran.

Peningkatan efisiensi ini membebaskan waktu bagi para pendidik agama Islam, yang sering kali juga memiliki tugas pembimbingan dan arahan spiritual, agar dapat mengalokasikan kembali waktu yang sebelumnya terpakai untuk administrasi guna membangun interaksi yang lebih substantif dengan peserta didik.

Dikutip dari media UMS News Seorang dosen dari program studi Pendidikan Teknik Informatika (PTI) di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), yaitu Bapak Aditya Nur Cahyo, S.Kom, M.Eng., yang merupakan seorang pakar di bidang Keamanan Siber, memberikan penjelasan mengenai prospek dan hambatan dalam pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) pada era digital. Penjelasannya difokuskan pada Teknologi Large Language Model (LLM), yang memiliki kemampuan untuk mendukung berbagai kegiatan manusia.

Beliau menyatakan bahwa teknologi AI saat ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pendukung, tetapi juga memiliki kapabilitas untuk beroperasi menyerupai manusia melalui sistem agen digital. “Saat ini, AI tidak hanya terbatas pada memberikan jawaban atas pertanyaan, melainkan telah mampu melaksanakan instruksi yang rumit dan beroperasi secara otonom,” terang Adit pada hari Senin (9/2).

Namun, melihat AI hanya sebagai ancaman juga merupakan cara pandang yang terlalu sederhana. Teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya dan bagaimana lembaga pendidikan mengaturnya.

AI dapat membantu guru mengembangkan ide pembelajaran, menyusun bahan ajar, membuat variasi evaluasi, mengolah informasi, serta mendukung pekerjaan administratif. Bagi lembaga pendidikan, teknologi ini bahkan dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pengelolaan pendidikan.

Baca Juga :  Jambi Layak Huni: Sinergi Dinas PUPR dan TNI Melalui DUMISAKE Bedah Rumah

Di sinilah Manajemen Pendidikan Islam memiliki ruang yang sangat penting. Persoalan AI bukan sekadar persoalan teknologi, tetapi persoalan manajemen. Sekolah dan madrasah membutuhkan kebijakan yang jelas mengenai penggunaan AI, peningkatan kompetensi guru, literasi digital peserta didik, mekanisme pengawasan, serta budaya akademik yang menjunjung tinggi kejujuran dan tanggung jawab. Kepala sekolah atau kepala madrasah tidak cukup hanya menyediakan akses terhadap teknologi, tetapi juga harus mampu menentukan batas, tujuan, dan etika penggunaannya.

Dalam perspektif pendidikan Islam, kemajuan teknologi tidak boleh dipisahkan dari nilai. Kecerdasan buatan boleh semakin canggih, tetapi pendidikan tetap membutuhkan manusia yang memiliki ilmu, adab, amanah, dan tanggung jawab.

AI mampu menghasilkan teks dalam hitungan detik, tetapi tidak dapat menggantikan peran pendidikan dalam menanamkan keteladanan dan membentuk karakter. Karena itu, penggunaan AI perlu ditempatkan dalam kerangka maqashid pendidikan: teknologi digunakan untuk membantu manusia berkembang, bukan membuat manusia berhenti berpikir.

Persoalan yang lebih besar sebenarnya bukan apakah AI akan menggantikan guru, melainkan apakah lembaga pendidikan mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Guru yang memiliki kemampuan pedagogis, karakter, dan keteladanan tetap memiliki posisi penting karena pendidikan bukan sekadar transfer informasi.

Pendidikan merupakan proses membentuk manusia. AI dapat membantu memberikan informasi, tetapi guru tetap memiliki tanggung jawab untuk membimbing peserta didik dalam memahami, menilai, dan menggunakan informasi tersebut secara benar.

Menurut media Perpustakaan uinssc memberikan Gambaran bahwasanya Kecerdasan buatan (AI) memiliki kapasitas untuk mengakselerasi dan mengindividualisasi pengalaman pendidikan. Platform-platform terkemuka, termasuk Duolingo, Coursera, dan Khan Academy, telah mengintegrasikan algoritma pembelajaran mesin guna mengadaptasi konten pembelajaran sesuai dengan tingkat kompetensi setiap peserta didik. Ada dua metode yang dapat digunakan untuk mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dalam sektor pendidikan.

Baca Juga :  Pelabuhan Muara Jambi: Makna Historis dan Kesiapan Daerah

Pendekatan pertama melibatkan pendelegasian tanggung jawab pengajaran kepada sistem AI, yang berfungsi sebagai pendidik individual bagi setiap peserta didik. Penggunaan teknologi canggih yang mampu mempersonalisasi materi pembelajaran bagi setiap siswa kini telah lazim diterapkan di berbagai lingkungan kelas melalui sistem tutor cerdas.

Karena itu, masuknya AI ke sekolah seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali cara lembaga pendidikan dikelola. Sekolah dan madrasah tidak perlu menutup diri terhadap teknologi, tetapi juga tidak boleh menerimanya tanpa pertimbangan.

Yang dibutuhkan adalah tata kelola AI yang cerdas, etis, dan berorientasi pada tujuan pendidikan. Guru perlu dibekali kompetensi digital, siswa perlu diajarkan menggunakan AI secara bertanggung jawab, dan pimpinan lembaga perlu menciptakan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara inovasi dan nilai.

Pada akhirnya, pertanyaan “AI merupakan ancaman atau peluang?” tidak dapat dijawab hanya dengan melihat teknologinya. Ancaman atau peluang tersebut sangat dipengaruhi oleh bagaimana manusia mengelolanya.

Bagi Manajemen Pendidikan Islam, AI dapat menjadi kesempatan untuk membangun tata kelola pendidikan yang lebih adaptif, efisien, dan inovatif, selama teknologi tetap ditempatkan sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, bukan sebagai pengganti nilai dan proses kemanusiaan dalam pendidikan.

Dengan demikian, tantangan pendidikan di era AI bukan sekadar bagaimana sekolah mengajarkan teknologi kepada siswa, tetapi bagaimana sekolah mengajarkan siswa menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir, beretika, dan menjadi manusia yang berkarakter.

Di titik inilah Manajemen Pendidikan Islam dituntut hadir: bukan untuk menolak perubahan, melainkan untuk memastikan bahwa perubahan tetap memiliki arah.

Penulis adalah Mahasiswa MPI UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi