Ketika Fakir Menjadi Pakar: Satire tentang Kesombongan Intelektual

Oleh : Fransisko Chaniago, M.Pd.

Ada satu kalimat yang pernah muncul dalam obrolan santai di ruang-ruang akademik, yaitu “fakir menjadi pakar.” Kalimat ini terdengar lucu, ringan, bahkan sekilas seperti candaan biasa. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan sindiran yang cukup tajam terhadap fenomena yang semakin sering kita jumpai, yaitu seseorang berbicara panjang lebar tentang sesuatu yang sebenarnya berada di luar wilayah keilmuannya, seolah keberanian berbicara sudah cukup untuk menjadikannya ahli.

Di perguruan tinggi, di media sosial, bahkan dalam forum-forum ilmiah, fenomena seperti ini tidak lagi asing dan telah terjadi menahun. Orang merasa cukup membaca beberapa buku, artikel, atau menonton beberapa video, lalu tampil layaknya otoritas yang paling memahami persoalan. Namun, persoalan ini sebenarnya tidak sesederhana membedakan mana orang yang ahli dan mana yang hanya “sok tahu”.

Jika direnungkan lebih dalam, guyonan itu justru membawa kita pada pertanyaan yang jauh lebih mendasar, siapa sebenarnya yang berhak disebut pakar? Apakah keahlian hanya ditentukan oleh gelar akademik? Apakah seseorang yang berasal dari disiplin berbeda otomatis tidak layak berbicara tentang suatu persoalan? Atau justru dunia pengetahuan memang menuntut keterbukaan lintas disiplin?

Dalam tradisi filsafat ilmu, pengetahuan tidak pernah dipahami secara tunggal. Aristoteles sejak lama membedakan antara episteme sebagai pengetahuan ilmiah, techne sebagai keterampilan praktis, dan phronesis sebagai kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

Pembedaan ini penting karena menunjukkan bahwa manusia memahami realitas dengan banyak cara. Seorang ahli hukum memandang korupsi dari sudut aturan dan norma, ekonom melihat dampaknya terhadap distribusi sumber daya, sementara ilmuwan politik membaca relasi kekuasaan yang melatarinya. Mereka berbicara tentang objek yang sama, tetapi dengan bahasa dan kerangka berpikir yang berbeda. Tidak ada yang sepenuhnya salah karena masing-masing bergerak dalam horizon keilmuan yang berbeda pula.

Baca Juga :  WARNING!, Akankah ASN dan Kades di Tanjab Timur Berlaku Netral Pada Pilkada 2024

Di titik inilah guyonan “fakir menjadi pakar” menjadi menarik. Ia tidak selalu berarti larangan bagi seseorang untuk berbicara di luar bidangnya. Dunia modern justru membutuhkan dialog antar-ilmu. Banyak persoalan hari ini terlalu rumit untuk dijelaskan hanya dengan satu disiplin. Krisis lingkungan, misalnya, tidak cukup dibaca hanya melalui ilmu alam karena ia juga menyangkut ekonomi, politik, budaya, bahkan etika. Begitu pula pendidikan yang tidak bisa hanya dibahas oleh ahli pendidikan semata sebab di dalamnya ada psikologi, sosiologi, teknologi, hingga persoalan kebijakan publik.

Analogi sederhananya seperti perjalanan menuju Pasar Angso Duo di Jambi. Orang bisa sampai ke tempat yang sama melalui jalan yang berbeda. Ada yang lewat Telanaipura, ada yang dari Jambi Seberang, ada pula yang melewati Pasir Putih. Tujuannya sama, tetapi rutenya tidak tunggal.

Pengetahuan bekerja dengan cara yang serupa. Satu fenomena dapat dijelaskan melalui banyak pendekatan. Karena itu, klaim bahwa hanya satu disiplin yang paling benar sering kali justru mempersempit cara kita memahami realitas.

Hans-Georg Gadamer dalam Truth and Method menjelaskan bahwa setiap manusia memahami sesuatu berdasarkan “horizon”-nya masing-masing, yakni pengalaman hidup, tradisi berpikir, pendidikan, dan lingkungan sosial yang membentuk cara pandangnya. Tidak ada manusia yang sepenuhnya netral. Bahkan ilmuwan sekalipun membawa latar belakang tertentu ketika membaca realitas. Kesadaran inilah yang seharusnya melahirkan kerendahan hati intelektual, bukan justru kesombongan akademik.

Baca Juga :  Selamat Jalan Mas Daryono, Pensiunan ASN Yang Sukses Mendirikan Radio Eldity 95,2 FM

Sayangnya, sistem pendidikan kita masih sangat memuliakan linearitas. Orang dianggap sah berbicara hanya jika jalur akademiknya lurus dan seragam dari awal hingga akhir. Akibatnya, ruang ilmu sering berubah menjadi ruang eksklusif yang penuh sekat. Padahal, realitas kehidupan tidak pernah berjalan secara linear. Edgar Morin mengkritik keras cara pendidikan modern yang memecah ilmu ke dalam kotak-kotak sempit hingga masing-masing kehilangan kemampuan untuk saling memahami. Ketika ilmu hanya sibuk menjaga wilayahnya sendiri, yang lahir bukan kedalaman berpikir, melainkan keterasingan antar-disiplin.

Dalam pandangan lain, keterbukaan lintas ilmu juga bukan berarti semua orang bebas berbicara tanpa dasar. Di sinilah letak persoalan utama dari guyonan “fakir menjadi pakar”. Yang dipermasalahkan sebenarnya bukan keberanian untuk belajar di luar bidang, melainkan sikap merasa paling tahu padahal pemahamannya masih dangkal. Bertrand Russell pernah mengingatkan bahwa salah satu penyakit intelektual paling berbahaya adalah keyakinan yang terlalu berlebihan terhadap diri sendiri. Ironisnya, orang yang sedikit tahu sering kali paling yakin dengan pendapatnya, sementara mereka yang benar-benar mendalami suatu bidang justru lebih sadar akan luasnya hal-hal yang belum mereka pahami.

Fenomena ini dalam psikologi dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect, yaitu kecenderungan seseorang dengan kemampuan terbatas untuk melebih-lebihkan kompetensinya sendiri. Kita bisa melihatnya dengan mudah hari ini. Banyak orang berbicara tentang hukum tanpa pernah membaca teori hukum, berbicara tentang agama tanpa memahami metodologi tafsir, atau berbicara tentang pendidikan tanpa pernah memahami kompleksitas dunia belajar.

Baca Juga :  Tantangan Pendidikan Filsafat dan Perlunya Polisi Berkarakter

Media sosial membuat semua orang memiliki panggung, tetapi tidak semua orang memiliki kedalaman. Karena itu, guyonan “fakir menjadi pakar” seharusnya dipahami bukan sebagai alat untuk merendahkan orang lain, melainkan sebagai pengingat bersama. Dunia akademik membutuhkan keterbukaan, tetapi juga membutuhkan kesadaran akan batas diri. Seseorang boleh memasuki wilayah ilmu lain, bahkan itu penting, tetapi ia harus datang dengan sikap belajar, bukan dengan pretensi merasa paling benar.

Jika kita berkelok pada sudut pandang lain, pendidikan yang sehat bukan pendidikan yang membungkam perbedaan, melainkan pendidikan yang memberi ruang dialog. Paulo Freire menyebut pendidikan semacam ini sebagai pendidikan dialogis, yaitu proses ketika manusia saling belajar melalui percakapan yang setara. Dalam dialog yang sehat, orang tidak sibuk mempertahankan gengsi keilmuan, tetapi berusaha memahami kemungkinan-kemungkinan baru dari sudut pandang orang lain.

Di sini penulis menyederhanakan kembali bahwa makna paling penting dari guyonan “fakir menjadi pakar.” Ia bukan sekedar lelucon akademik, melainkan kritik halus terhadap kesombongan intelektual. Sebab, ukuran sejati seorang akademisi bukan terletak pada seberapa banyak ia berbicara, melainkan pada sejauh mana ia mampu menyadari batas pengetahuannya sendiri. Di ruang ilmu, kejujuran intelektual jauh lebih berharga daripada sekedar tampil paling pintar.