Dampak Kenaikan BBM Bagi Para Pekerja Industri

JAMBI, BITNews.id – Pada Sabtu (03/09/22) Pemerintah resmi mengumumkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersusidi. Adapun harga subsidi jenis Pertalite dari Rp 7. 600 menjadi Rp 10.000 dan Solar dari Rp 5.150 menjadi Rp 6.800. Ini sangat berdampak kepada masyarakat, terutama bagi para pekerja industri.

Salah satunya para pengrajin kursi yang berada di Lorong Apli RT 37, Kecamatan Paalmerah, Kota Jambi. Dengan naiknya harga BBM, sangatlah berpengaruh kepada penghasilan mereka.

Baca Juga :  DPC GRANAT Tanjab Barat Dilantik, Siap Berkontribusi Memberikan Edukasi Bahaya Narkoba

Ditemui ditempat mereka bekerja, Sukandi atau yang sering dipanggil Mas Kandi saat diwawancarai oleh BITNews mengungkapkan.

“Biasanya kami bisa memproduksi perharinya 5 sampai 7 kursi, sekarang malah berkurang,” ujarnya.

Ia menambahkan untuk pemesanan kursi di toko berkurang, karna daya beli masyarakat menurun. Ditambah lagi naiknya kebutuh-kebutuhan pokok. Dan kami baru memproduksi kursi ketika ada yang mesan.

“ketika ada pesanan dari toko, barulah kami bekerja,” sambungnya.

Baca Juga :  Polres Muarojambi Laksanakan Jum'at Berkah dengan Berbagi Sembako dan Alat Olah Raga

Mas Kandi pun berharap pemerintah mengkaji ulang keputusan tersebut, sehingga beban masyarakat tidak terlalu berat.

“Kami minta kepada pemerintah untuk mengkaji ulang kenaikan harga BBM ini, supaya beban kita masyarakat tidak terlalu berat,” pungkasnya.

Hal senada disampaikan Ali, salah satu supir di Provinsi Jambi. Menurut Ali semenjak BBM naik antaran menjadi sepi.

“Antaran kami sepi bang, dulunya kami ngantar sampai ke luar kota bang, kalau sekarang, antaran di dalam kota pun dak ada,” ujar Ali.

Baca Juga :  Sambut HUT LKBN ANTARA ke-86, Biro Jambi Gelar Turnamen Mini Soccer

Kemudian Yanto, salah satu pemilik usaha pembuatan sofa menyebut, kenaikan BBM sangat berdampak bagi pelaku usaha.

“Sebelum BBM naik, banyak pesanan datang ke kami. Tapi, pasca BBM naik, belum ada satu orang pun yang mesan. Jadi kalau bisa BBM ini janganlah dinaikan, kasihan kami pelaku usaha,” terang Yanto dengan nada kecewa. (Ega)