Minal Aidin Wal Faizin

Oleh : Musri Nauli 

Alangkah kagetnya saya ketika sedang santai setelah menikmati Idul Fitri di Padang, tiba-tiba pesan WhatsApp masuk.

“Selamat Hari Raya idul Fitri. Mohon maaf Lahir dan batin, bang”. Diiringi emotion Tanda sembah.

Kekagetan saya semata-mata ucapan tulus dari Al Haris sebagai Gubernur Jambi. Ditengah-tengah Berita tentang Suasana mudik.

Baca Juga :  Membangun Sikap Positif melalui Pendidikan, Fondasi Karakter yang Penting

Selain itu kekagetan saya juga didasarkan kepada Ucapan tulus. Tidak ada sekat batas. Ucapan dari Gubernur Jambi.

Ditengah Suasana mudik dan akhir Ramadhan, ucapan tulus begitu istimewa.

Pertama. Sebagai Gubernur Jambi, Al haris Masih mengirimkan ucapan selamat Idul Fitri. Diiringi gambar beserta istri. Sama sekali jauh dari kesan protokoler.

Kedua. Bayangkan. Sebagai Gubernur Jambi, ditengah kesibukan suasana Safari Ramadhan, Al Haris Masih mempunyai waktu luang. Mengirimkan ucapan selamat Idul Fitri. Diiringi ucapan tulus “Maaf Lahir Batin”.

Baca Juga :  Pendidikan sebagai Kunci Mengatasi Ketimpangan Sosial

Tentu saja suasana istimewa menjadi berkah tersendiri Ramadhan kali ini.

Sebagai ucapan tulus, tentu saja saya membalasnya dengan cara khas.

“Minal Aidin, Wal Faizin, Pak Gub. Kami duluan, Pak Gub. Kayak Rossi. Selalu terdepan. Terima Kasih atas perhatiannya.

Suasana istimewa ini tentu saja menjadi kebahagian tersendiri. Sebagai kebahagiaan tersendiri, tentu saja saya rela berbagi.

Baca Juga :  Penganan

“Selamat Hari Raya, Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan batin”.