Mengelola Kecerdasan dalam Peserta Didik

Oleh : Salman Alfarisy

Strategi pembelajaran selama ini masih bersifat massal, yang memberikan perlakuan dan layanan pendidikan yang sama kepada peserta didik. Padahal, mereka memiliki tingkat kecakapan, kecerdasan, minat, bakat, dan kreativitas yang berbeda.

Pertama, penting untuk memahami bahwa setiap siswa memiliki potensi dan gaya belajar yang berbeda. Beberapa mungkin lebih unggul dalam mata pelajaran tertentu, sementara yang lain memiliki bakat dalam seni atau olahraga.

Memahami peserta didik secara lebih efektif adalah bagian penting dari mengajar dan pembelajaran. Mengajar adalah membantu peserta didik memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berpikir, serta sasaran untuk mengekspresikan diri dan cara belajar bagaimana belajar. Sedangkan pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan peserta didik.

Selain itu, lingkungan belajar yang positif juga berperan penting dalam pengelolaan kecerdasan. Sekolah seharusnya menjadi tempat siswa merasa aman untuk mengekspresikan diri dan bereksplorasi.

Dengan menciptakan iklim kelas yang inklusif, siswa akan lebih berani mengambil risiko dan berinovasi. Pendidikan dapat mengembangkan kegiatan yang mendorong kolaborasi dan saling menghargai antar siswa, sehingga membangun kecerdasan sosial mereka.

Baca Juga :  Refleksi: Peringatan Hari Guru Dimata Pelajar

Kecerdasan emosional juga tidak kalah penting. Pendidikan harus membantu siswa mengenali dan memahami emosi mereka. Program yang melibatkan keterampilan sosial dan pemecahan masalah dapat meningkatkan kecerdasan emosional siswa, sehingga mereka lebih baik dalam menghadapi tantangan di dalam maupun di luar kelas.

Bakat dan kecerdasan merupakan dua hal yang berbeda, namun berkaitan. Bakat adalah kemampuan yang melekat dalam diri seseorang. Bakat peserta didik dibawa sejak lahir dan terkait dengan struktur otaknya. Secara genetik, struktur otak telah terbentuk sejak lahir, tetapi berfungsinya otak sangat ditentukan oleh cara peserta didik berinteraksi dengan lingkungannya.

Biasanya, kemampuan ini dikaitkan dengan intelegensi atau kecerdasan, di mana kecerdasan dan intelegensi merupakan modal awal untuk bakat tertentu.

Bakat yang dimiliki peserta didik tidak terbatas pada suatu keahlian. Jika bakat tersebut dikembangkan, bisa menjadi lebih banyak. Misalnya, jika peserta didik suka menyanyi, tak jarang ia akan berbakat bernyanyi. Jika peserta didik suka membaca puisi, biasanya peserta didik tersebut akan memiliki bakat seni peran, dan sebagainya.

Baca Juga :  Geopark Merangin Jambi Bukan Proyek Simbolis, Tetapi Program Dunia

Terkadang, bakat peserta didik juga berkaitan dengan bakat orang tuanya. Sekitar 50% bakat peserta didik diturunkan dari orang tuanya, selebihnya dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Bakat turunan bisa dilihat dengan cara membandingkan peserta didik berbakat dengan peserta didik lainnya.

Peserta didik berbakat biasanya lebih cepat berkembang ketimbang peserta didik lainnya seusianya, misalnya mereka lebih cepat dalam hal berhitung, menari, atau menghafal dibandingkan dengan peserta didik lainnya.

Menurut Gardner, kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur matematika logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis.

Peran guru dalam mengembangkan potensi peserta didik dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 39 Ayat (2), menyebutkan bahwa pendidikan merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian terhadap masyarakat, terutama bagi pendidik di perguruan tinggi.

Dalam pembelajaran, guru sebagai pendidik berinteraksi dengan peserta didik yang memiliki potensi beragam. Untuk itu, pembelajaran hendaknya lebih diarahkan pada proses belajar kreatif. Dalam konteks ini, guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator daripada pengarah yang menentukan segalanya bagi peserta didik.

Baca Juga :  Pengaruh Suku Bunga BI dan Inflasi yang Semakin Tinggi

Sebagai guru, lebih baik mendorong peserta didik untuk mengembangkan inisiatif dalam menjalani tugas-tugas baru. Guru harus terbuka menerima gagasan-gagasan peserta didik dan lebih berusaha menghilangkan ketakutan serta kecemasan peserta didik yang menghambat pemikiran dan pemecahan masalah secara kreatif.

Semua ini akan memungkinkan peserta didik mengembangkan seluruh potensi kecerdasannya secara optimal. Suasana kegiatan belajar mengajar yang menarik, interaktif, serta melibatkan kedua belah otak peserta didik secara seimbang memperhatikan keunikan tiap individu serta melibatkan partisipasi aktif setiap peserta didik akan membuat seluruh potensi peserta didik berkembang secara optimal.

Selanjutnya, tugas guru adalah mengembangkan potensi peserta didik menjadi kemampuan yang maksimal. Mengelola kecerdasan peserta didik adalah tugas yang memerlukan pemahaman mendalam tentang keberagaman individu, dengan pendekatan yang dekat, lingkungan belajar yang positif, serta dukungan untuk mengembangkan kecerdasan emosional dan kreativitas.

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi