JAMBI,BITNews.id – Bank Jambi mampu meraih banyak prestasi termasuk dapat menjaga kinerjanya tetap tumbuh dan sustain selama bertahun-tahun. Bank Jambi terus mengukir tiga prestasi sekaligus. Selain mencetak kinerja gemilang di 2021 sebagaimana terekam dalam “Rating 107 Bank Versi Infobank 2022.
Bank Jambi juga mencatatkan dua prestasi istimewa lain, yakni bank peraih skor tertinggi dalam rating dari 107 bank umum dan bank berpredikat “sangat bagus” selama 25 tahun berturut-turut.
Lalu bagaimana Bank ini mempersiapkan diri menghadapi tantangan ke depan yang makin dinamis.
Direktur Utama Bank Jambi, Yunsak El Halcon mengatakan, terdapat beberapa kebijakan dan strategi yang dilakukan selama pandemi, yaitu melakukan program efisiensi biaya umum, mengurangi DPK mahal yang pada akhirnya menurunkan cost of fund namun likuiditas bank tetap aman terjaga; melakukan program restrukturisasi kredit sesuai dengan regulasi OJK (Otoritas Jasa Keuangan) selama masa pandemi, optimalisasi potensi fee based dengan meningkatkan layanan digital di antaranya memaksimalkan fitur-fitur mobile banking, meluncurkan instant loan dan online onboarding serta QRIS (quick response code Indonesian standard), serta meluncurkan kartu debit.
Secara konsisten, Bank Jambi berhasil mencatat nilai komposit GCG yang baik dalam beberapa tahun terakhir.
“Bank Jambi senantiasa berusaha melakukan pemenuhan yang memadai atas prinsip-prinsip tata kelola yang baik diantaranya, keterbukaan (transparency), akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility), kemandirian (independency), kesetaraan dan kewajaran (fairness) dan secara konsisten memperbaiki kelemahan-kelemahan perusahaan serta memastikan pengelolaan perusahaan secara hati-hati dan menjalankan bisnis sesuai dengan standar etika yang berlaku dan berkontribusi dalam meningkatkan ekonomi masyarakat secara profesional sehingga dapat memberikan manfaat bagi stakeholder, disamping kami telah melakukan pengendalian internal dan menerapkan code of conduct pada seluruh insan Bank Jambi,”jelasnya. Selasa (9/8).
Bank Jambi telah beralih ke layanan digital sejak diluncurkannya mobile banking pada 2017 yang menjadi salah satu milestone peradaban digitalisasi di Bank Jambi.
Namun, tetap konsisten dan concern terhadap peningkatan kapabilitas, lebih kepada program insentifikasi infrastruktur dan kualitas SDM (sumber daya manusia) yang harus ditingkatkan khususnya di bidang IT (teknologi informasi) termasuk dari sisi pengembangan software dan hardware serta keandalan DRP (disaster recovery planning) & DRC (disaster recovery center).
Digitalisasi layanan, membuat layanan berbasis digital. Misalnya mobile banking, QRIS, meluncurkan instant loan dan on boarding. Serta, kerja sama dengan pihak ketiga, misalnya dengan menggaet fintech, Amazon, dan lain-lain.
Ancaman inflasi dan pengetatan likuiditas masih menghantui hingga saat ini. Agar tetap sustain, apa yang dilakukan Bank Jambi dalam menghadapi hal tersebut?
Pada dasarnya, risiko akibat inflasi berpengaruh pada suku bunga bank. Pengaruh inflasi terhadap suku bunga bank dapat dibedakan menjadi dua, yakni ketika inflasi tinggi dan inflasi rendah. Ketika tingkat inflasi tinggi, maka bank sentral (BI) menaikkan suku bunga agar tingkat inflasi menurun, otomatis bank akan menyesuaikan suku bunga sesuai acuan BI. Peningkatan suku bunga menyebabkan melambatnya penyaluran pinjaman sehingga akan berdampak pada pendapatan bunga bank.
Salah satu opsi Bank Jambi dalam menghadapi hal ini yaitu dengan mendongkrak/men-generate fee based income. Sesuai roadmap ekosistem digitalisasi ke depan, akan dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: mewajibkan seluruh nasabah tabungan untuk mempunyai mobile banking; menambah fitur-fitur mobile banking (virtual account, fitur pembayaran lainnya); menargetkan penambahan merchant QRIS; memotivasi nasabah untuk selalu menggunakan digital channel ketika bertransaksi.
Dengan sendirinya, digitalisasi membantu meminimalisasi jumlah uang beredar, di mana banyaknya uang beredar berkontribusi pada peningkatan inflasi. (*/Red)
