Dari 3 Hektare Lahan, Petani Rantau Rasau Kembangkan Benih Kedelai untuk Pasar Sumatera Utara

TANJABTIM, BITNews.id – Kelompok Tani (Poktan) Bambu Runcing, Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, mulai mengembangkan usaha penangkaran benih kedelai. Benih yang diproduksi dari lahan seluas tiga hektare tersebut diproyeksikan diserap PT Agrinas untuk dikembangkan dan mendukung kebutuhan benih kedelai di Sumatera Utara.

Program pemberdayaan petani ini merupakan kerja sama Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan Kelompok Tani Bambu Runcing yang mulai dilaksanakan pada 2026 melalui program bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Kedelai yang dikembangkan merupakan varietas Detap yang memiliki karakteristik tahan terhadap pecah polong. Dari lahan seluas tiga hektare, produksi benih setelah melalui tahapan pengujian diperkirakan mencapai lima ton.

Dengan kisaran harga benih Rp13.000 hingga Rp15.000 per kilogram, produksi tersebut berpotensi memiliki nilai ekonomi sekitar Rp65 juta hingga Rp75 juta.

Baca Juga :  Panitia Konser Dewa 19 Sediakan Fasilitas Internet Gratis

Saat ini, benih kedelai hasil penangkaran masih menjalani proses sertifikasi oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jambi. Sertifikasi diperlukan sebelum benih dapat diedarkan dan dimanfaatkan secara lebih luas.

Program tersebut mendapat pendampingan teknis dari tim IPB, di antaranya Prof. Munif Ghulamahdi. Pendampingan dilakukan untuk mendukung petani dalam pengembangan produksi dan penangkaran benih kedelai.

Potensi penyerapan oleh PT Agrinas menjadi salah satu faktor yang mendorong pengembangan penangkaran benih kedelai di Kelompok Tani Bambu Runcing.

Benih yang dihasilkan petani diproyeksikan diserap Agrinas untuk selanjutnya dikembangkan di Sumatera Utara. Dengan demikian, produksi petani Rantau Rasau berpeluang tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga masuk ke dalam rantai pasok benih antardaerah.

Baca Juga :  Joni Ismet Pimpin MD KAHMI Lima Tahun Kedepan

Kepastian pasar menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan bisnis benih. Komoditas tersebut memiliki karakteristik berbeda dengan kedelai konsumsi, terutama dari sisi standar mutu dan harga.

“Lebih menguntungkan sebagai penangkar benih karena harga relatif tinggi dan stabil, sepanjang mampu mencari peluang pasar, baik swasta maupun pemerintah. Kebutuhan benih secara nasional juga relatif tinggi,” jelas tim pendamping.

Pengembangan tersebut sekaligus mendorong perubahan orientasi usaha petani. Mereka tidak hanya diarahkan menghasilkan kedelai untuk konsumsi, tetapi juga membangun kapasitas sebagai penangkar benih.

Sesuai arahan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, pengembangan kedelai di Tanjung Jabung Timur diarahkan untuk memperkuat posisi petani sebagai penangkar benih.

Harga benih yang mengikuti standar yang ditetapkan Kementerian Pertanian juga menjadi salah satu faktor yang dinilai dapat memberikan dasar kepastian usaha. Kondisi tersebut berbeda dengan kedelai konsumsi yang harganya lebih dipengaruhi dinamika pasar.

Baca Juga :  Polda Jambi Kirim Tim Balap Sepeda ke 'Tour of Kemala Banyuwangi 2023 di Jawa Timur

Program yang dimulai pada 2026 tersebut diharapkan tidak berhenti pada satu musim tanam. Pengembangan ke depan dirancang secara berkelanjutan melalui pola plasma, terutama untuk mendukung pembiayaan sarana produksi dan memperkuat kepastian pasar.

Jika proses sertifikasi berjalan sesuai rencana dan penyerapan oleh Agrinas terealisasi, pengembangan benih kedelai di Kelompok Tani Bambu Runcing berpotensi menjadi salah satu model usaha penangkaran bagi petani di Tanjung Jabung Timur.

Melalui lahan seluas tiga hektare, petani mulai mengembangkan usaha yang tidak hanya berorientasi pada produksi kedelai, tetapi juga membangun rantai bisnis benih dengan sasaran pasar yang lebih luas. (*)