JAMBI,BITNews.id – Angka pasien cuci darah di sejumlah rumah sakit mengalami kenaikan. Pola konsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat menjadi salah satu penyebab gangguan ginjal sehingga membutuhkan tindakan cuci darah.
Direktur RSUD Raden Mattaher Herlambang mengungkapkan bahwa pada Januari-Mei 2022, cuci darah di rumah sakit itu rata-rata 600 kali per bulan.
“Pada Juli naik menjadi 700 tindakan dan terus meningkat hingga 800 tindakan setiap bulan pada Agustus-September,” ujar Herlambang, Senin (3/10/2022).
Dia menjelaskan, diantara pasien yang berpotensi menjalani cuci darah di RSUD Raden Mattaher adalah penderita kencing manis, darah tinggi dan pasien dengan gangguan kolestrol.
“Kolestrol tinggi membuat jaringan ginjal bekerja lebih berat. Faktor lain adalah infeksi. Ada juga pasien yang mengalami gangguan jaringan ginjal. Yang sering itu,” katanya.
Rata-rata pasien cuci darah berusia di atas 50 tahun. Ini dikarenakan sebagian besar mereka memiliki penyakit komorbit.
“Untuk usia muda, salah satu penyebabnya adalah infeksi, gaya hidup, dan kurang minum air putih,” jelasnya.
Pasien muda, kata dia, kebanyakan datang ke rumah sakit untuk cuci darah karena sering mengkonsumsi minumam berenergi.
“Kita imbau agar mengurangi minuman berenergi. Biasanya ini yang mengkonsumsi anak-anak yang berolahraga, sopir, dan pekerja bangunan,” katanya.
Beruntung BPJS Kesehatan menanggung biaya tindakan cuci darah.
Rumah sakit pelat merah ini juga merupakan satu-satunya rumah sakit yang memiliki mesin cuci darah khusus Covid-19. Layanan bagi pasien Covid dipisah dari pasien non Covid.
RSUD Raden Mattaher sendiri kini sedang mengupayakan bantuan fasilitas dari Kemenkes agar bisa melayani pasien gagal ginjal. Bila bantuan didapat, diharapkan transplantasi ginjal bisa dilakukan di rumah sakit tersebut.
Tindakan cuci darah di RS Bratanata juga mengalami kenaikan, namun tidak sesignifikan di RSUD Raden Mattaher. Kepala RS Bratanata Mayor CKM Fauzi Mustakim menjelaskan bahwa pada Januari 2022 tercatat 496 tindakan.
Lalu pada Februari 473 tindakan, Maret naik menjadi 508 tindakan, lalu turun lagi pada April menjadi 492 tindakan, dan Mei 472 tindakan. Namun, pada Juni angkanya mencapai 529 tindakan, Juli 525 tindakan, Agustus 549 tindakan dan September 575 tindakan.
“Hari ini aja, tadi ada 16 tindakan pasien cuci darah. Umurnya bervariasi,” tutup Fauzi.
Pengamat kesehatan Dery Mulyadi mengatakan bahwa kenaikan angka tindakan cuci darah bisa disebabkan dua faktor utama. Salah satunya karena layanan cuci darah seluruhnya ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
“Jadi, biasa aja itu. Pertama memang kita berpikir bahwa kasus itu banyak, kedua BPJS sudah digunakan dengan baik, artinya sudah meng-cover itu semuanya. Itu saja sih menurut saya,” kata mantan ketua Ikatan Dokter Indonesia Provinsi Jambi ini.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Ferry Kusnandi mengatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan dinas kesehatan di kabupaten dan kota untuk menyosialisasikan bahaya penyakit ginjal, stroke, jantung dan penyakit tidak menular lainnya.(*/Red)








Discussion about this post