Kualitas dan Kuantitas Air Sungai Batanghari Menurun, Perumda Tirta Mayang Butuh Alternatif Sumber Air Baku

JAMBI,BITNews.id – Saat ini, kondisi air Sungai Batanghari semakin menurun secara kualitas maupun kuantitas. Perumda Air Minum Tirta Mayang menghadapi tantangan serius untuk menjaga keberlangsungan pelayanan air bagi warga Kota Jambi.

Pernyataan itu disampaikan Direktur Utama Perumdam Tirta Mayang Dwike Riantara, ketika menjadi salah satu narasumber dalam Kick-off Meeting dan Workshop Studi Penilaian Kualitas Sungai, Rabu, 28 Agustus 2024.

Workshop diselenggarakan oleh World Bank bersama Bappeda Provinsi Jambi di Hotel Swissbel dan dihadiri para pemangku kepentingan dalam pelestarian sungai, termasuk Dinas Lingkungan Hidup, Balai Wilayah Sungai Sumatera VI, Forum DAS Provinsi Jambi, dan para akademisi.

Baca Juga :  Al Haris Kukuhkan Pengurus HIKSA Periode 2021-2021

Menurut Dirut Tirta Mayang, diperlukan alternatif sumber air baku jika kondisi ekstrim terjadi pada Sungai Batanghari yang berakibat airnya tidak dapat dimanfaatkan. Kondisi ekstrim dimaksud, misalnya, jika terjadi kering total atau tercemar berat.

“Kita harus memiliki sumber air baku alternatif yang dapat digunakan pada kondisi darurat agar penyediaan air bagi warga Kota Jambi tidak terhenti,” kata Dwike.

Baca Juga :  Bupati Asahan Terima Audiensi Purnabakti PNS Kabupaten Asahan

Alternatif ini sangat mendesak, karena menurutnya, Tirta Mayang tidak memiliki sumber air baku lain kecuali Sungai Batanghari. “Jika terjadi sesuatu yang ekstrim pada Sungai Batanghari, Kota Jambi akan mengalami krisis air luar biasa,” terang Dwike.

“Dalam lima tahun terakhir saja, kekeruhan air terus meningkat, terutama karena sedimentasi dari hulu, sementara volume dan tinggi muka air cenderung menurun,” ia menjelaskan.

Baca Juga :  Paripurna HUT Kota Sungaipenuh ke-14, Fajran: Kita Berharap ke Depan Lebih Maju Lagi

Sumber air baku alternatif yang dimaksud, menurut Dwike, misalnya dengan menyiapkan Danau Sipin dan Teluk Kenali. Pemerintah juga perlu membangun waduk atau embung untuk menyimpan air, memanen hujan, dan sebagainya.

“Krisis air tidak pernah kita harapkan, namun sangat krusial untuk diantisipasi,” pungkas Dwike. (*)