JAMBI,BITNews.id – Di sepanjang aliran Sungai Batanghari, kehidupan masyarakat Jambi berjalan dengan harmoni yang lahir dari rasa aman. Rasa aman itu tidak hadir dengan sendirinya. Rasa aman dibangun melalui kehadiran negara yang bekerja senyap namun pasti.
Di sanalah Polri mengambil peran penting, tidak hanya sebagai penjaga ketertiban, tetapi sebagai pelayan publik yang mengedepankan kemanusiaan.
Para Polisi di Polda Jambi menjalankan tugas pengamanan bukan semata berlandaskan kewenangan, melainkan pada kesadaran bahwa keamanan sejati tumbuh dari kepercayaan masyarakat. Setiap pengabdian diarahkan untuk memastikan warga dapat menjalani hidup dengan tenang, beraktivitas tanpa rasa khawatir, dan merasa dilindungi oleh kehadiran aparat negara.
Di lapangan, wajah Polri tampak bukan hanya melalui pengaturan lalu lintas, penjagaan kamtibmas, atau penegakan hukum, tetapi juga melalui pendekatan yang dialogis dan empatik.
Polri hadir di tengah masyarakat, menyapa, mendengar, dan memahami persoalan warga. Dalam interaksi sederhana itulah pelayanan publik menemukan maknanya yang paling hakiki.
Polda Jambi menempatkan pelayanan sebagai jantung pengabdian. Di ruang-ruang pelayanan kepolisian, prosedur dijalankan dengan sikap ramah, transparan, dan bertanggung jawab.
Senyum petugas, kesabaran menjelaskan hak dan kewajiban, serta kesigapan menindaklanjuti laporan menjadi bagian dari komitmen untuk menghadirkan rasa adil dan nyaman bagi masyarakat.
Pendekatan humanis itu juga tercermin kuat dalam upaya pencegahan. Melalui peran Bhabinkamtibmas dengan mengedepankan preemtif dan preventif.
Polri hadir sebagai mitra masyarakat mencegah konflik sebelum membesar, membina kesadaran hukum, dan memperkuat ketahanan sosial. Keamanan tidak dipaksakan, tetapi dibangun bersama lewat komunikasi dan musyawarah.
Dalam situasi darurat dan bencana, Polri di jajaran Polda Jambi berdiri di garis terdepan. Evakuasi, pengamanan, hingga bantuan kemanusiaan dilakukan dengan ketulusan. Di saat masyarakat kehilangan arah, Polri hadir bukan hanya membawa perlengkapan tugas, tetapi juga ketenangan dan harapan. Ketegasan hukum dipadukan dengan empati kemanusiaan.
Nilai humanis Polri juga menyentuh kelompok-kelompok rentan, anak-anak, penyandang disabilitas, serta masyarakat kurang mampu. Melalui pendekatan pelayanan khusus dan kegiatan sosial, Polri menegaskan bahwa hukum dan perlindungan berlaku untuk semua, tanpa diskriminasi.
Di era Polri Presisi, Polda Jambi terus berbenah melalui peningkatan profesionalisme, transparansi, dan pemanfaatan teknologi. Namun seluruh inovasi itu tetap berlandaskan satu prinsip utama yakni pelayanan publik harus manusiawi dan berkeadilan. Sebab, teknologi hanya bermakna jika dijalankan dengan hati.
Tak kala kadang kejadian – kejadian yang tidak diinginkan terus menghantui anggota Kepolisian Jajaran Polda Jambi dalam mengungkap sebuah kasus.
Tragedi itu terjadi beberapa tahun lalu, saat Kompol Johan Christy Silaen masih menjabat sebagai Kanit Resmob Ditreskrimum Polda Jambi. Malam yang dingin itu, Kompol Johan Christy Silaen memimpin penggerebekan terhadap seorang pelaku buronan begal.
Penggerebekan tersebut ternyata berubah menjadi mimpi buruk berdarah. Bukan peluru yang menyambut tim, melainkan sebilah tombak ikan sepanjang lebih dari satu meter senjata primitif yang membawa maut.
Dalam hitungan detik, Kompol Johan Christy Silaen melindungi anggota lainnya dan menjadi tameng hidup. Tombak itu menembus perutnya, darah muncrat, dan tubuhnya roboh ke tanah. Kesadarannya pun perlahan menghilang.

Namun Kompol Johan Christy Silaen tau ini resiko yang harus diambilnya demi keselamatan anggota nya dan keamanan masyarakat agar pelaku begal yang meresahkan masyarakat tersebut segera ditangkap.
Tidak hanya itu saja, bahkan seorang ibu dan juga anggota Polri juga harus mengorbankan waktu, berpisah sementara dengan keluarga untuk kepentingan negara.
Ya, dialah AKP Helrawaty Siregar. Dia bertugas dalam misi menjaga perdamaian Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB, United Nations/UN) di Bangui, Afrika Tengah.

Saat terjadi serangkaian konflik bersenjata berkepanjangan, konflik yang terjadi mulai tahun 2012 hingga kini.
Pemberontak dari berbagai latar belakang di sana di picu karena berbagai faktor, termasuk persoalan ketidakpuasan etnis dan perebutan sumber daya alam.
AKP Helrawaty Siregar satu satunya Polwan dari Polda Jambi yang dikirim dalam misi tersebut. Ketakutan keluarga kerap menyelimuti membayangkan seorang ibu, seorang istri yang harus tetap berdiri gagah didaerah konflik, memegang teguh harapan agar saat kembali kekeluarga dalam keadaan sehat tanpa kurang satupun.
Disisi lain ada yang jarang kita sadari tapi tampak nyata dan jelas adanya yaitu Polisi Lalulintas. Sekilas masyarakat hanya memandang sisi negatif dari penindakan yang kadang dilakukan oleh para personel nakalnya saja, namun jarang sekali masyarakat menyadari bahwa mereka Polisi Lalu lintas kerap mengorbankan waktu bersama keluarga, bahkan jam tidur yang kerap terganggu jika ada kejadian-kejadian lakalantas pada malam hari.
Disaat hari-hari libur bahkan Lebaran mereka sering kali mengorbankan waktu bersama keluarga demi menjaga kelancaran dijalan raya, melewati tahun baru dijalan bukan berkumpul bersama keluarga.
Bahkan disaat hujan mereka dengan jas hujan berwarna hijau stabilo berdiri tegak dan gagahnya mengatur jalan agar tidak terjadi kemacetan pada hari-hari besar tersebut.
Yang uniknya di Provinsi Jambi, Tugas Ditpolairud Polda Jambi tidak hanya menjaga perairan tetap aman namun disini Ditpolairud Polda Jambi dibawa Kepemimpinan Dirpolairud Polda Jambi Kombes Pol Agus Tri Waluyo mengubah sebuah kampung pingir sungai yang terkenal dengan stigma kampung narkoba.
Label itu perlahan memudar seiring dengan keteguhan hati seorang Kombes Pol Agus Tri Waluyo. Rumah baca yang didirikan nya bukan hanya sekedar rumah baca saja, rumah baca tersebut menjadi tempat anak-anak bahkan orang dewasa belajar mengaji, berlatih Hadroh, belajar memangkas rambut dan lain lainnya.

Kegiatan positif yang selalu ditanamkan Kombes Pol Agus Tri Waluyo kepada anak-anak Pulau Pandan perlahan membentuk sejak dini karakter anak-anak disana.
Ternyata membentuk karakter sejak dini tidak hanya dilakukan oleh keluarga dan sekolah saja. Di Jambi, Polri turut aktif dalam membentuk karakter anak-anak. Hal ini terbukti dengan kegigihan Ditbinmas Polda Jambi melalui Subdit Bintibsos.
Kasubdit Bintibsos AKBP Dadang Karyanto terus menerus melakukan sosialisasi dari satu sekolah ke sekolah lain untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak sekolah tentang pentingnya memiliki karakter yang baik demi masa depan, mengingatkan anak-anak perilaku-perilaku menyimpang yang merugikan diri sendiri dan masa depan.
Yang tak kalah pentingnya ialah para anggota personel Ditsamapta yang tanpa kenal lelah mengawal para demonstran. Bahkan saat aksi ricuh demo DPRD beberapa waktu lalu para personel Samapta bersama jajaran Polresta Jambi tidur di emperan jalan demi mengamankan para pendemo.
Dijadikan kambing hitam sering mereka rasakan, ketika menjaga keamanan pendemo kerap kali disalah artikan dengan tuduhan tuduhan aneh. Ketika ada pendemo yang anarkis, para personel hanya menjaga keamanan dari kegaduhan dan melindungi yang lain yang tak bersalah. Namun perlindungan ini sering disalahartikan sebagai pihak yang memihak kepada salah satu.
Masih banyak perjuangan Polri di tanah Jambi yang tampak biasa namun sebenarnya mengandung sebuah arti nyata.
Narasi ini adalah bentuk apresiasi atas dedikasi Polri yang menjaga keamanan sembari melayani masyarakat dengan sepenuh hati.
Pengabdian itu mungkin tidak selalu disorot, tetapi dirasakan nyata oleh masyarakat yang dilindungi. Polri di jajaran Polda Jambi membuktikan bahwa kewibawaan tidak lahir dari jarak, melainkan dari kedekatan.
Di tanah Jambi, wajah Polri adalah wajah pengabdian tegas dalam tugas, tulus dalam pelayanan, dan setia menjaga negeri. Dari situlah kepercayaan tumbuh, dan keamanan menjadi milik bersama. (Dhea Viryza)
