People Led Development: Potret Komunitas Adat dan Petani di Tengah Krisis Iklim

JAMBI, BITNews.id – Nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter “People Led Development” yang diadakan pada kegiatan HUT ke-13 AJI Jambi, membahas bagaimana kehidupan Suku Anak Dalam hingga petani yang bertahan di tengah krisis iklim. Nobar dan diskusi film ini berlangsung di Taman Budaya Jambi, Kota Jambi, Kamis (21/11).

Para narasumber dalam diskusi, yakni Direktur Setara Jambi Baya Zulhakim, Direktur CAPPA Keadilan Ekologi Utari Octika Rani, dan Manajer Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jambi Eko Mulia Utomo.

Direktur CAPPA Keadilan Ekologi Utari Octika Rani mengatakan film ini mengungkapkan bagaimana komunitas Suku Anak Dalam Batin Sembilan yang berada di Batanghari dan Sarolangun, Jambi, berkonflik dengan perusahaan restorasi ekosistem. Masuknya perusahaan itu membuat kelompok Batin Sembilan kesulitan mengakses sumber daya alam berdasarkan kearifan lokal.

“Dahulu masyarakat terusir dan terusik. Mereka terbatas mengakses untuk aktivitasnya dengan kearifan lokal. Tentu menyatukan kedua pihak sulit. Perjalanan cukup panjang untuk mereka bisa mengelola dan mengakses wilayah. Sampai ditanda tangan nota kesepakatan MKK dengan PT Reki,” katanya.

CAPPA Keadilan Ekologi hadir untuk mendampingi kelompok Batin Sembilan. Kata Utari, kelompok Batin Sembilan di Simpang Macan kini sudah mendapatkan Surat Keputusan (SK) Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan (Kulin KK) dari KLHK.

“Film ini menceritakan bagaimana mereka membangun usaha mereka. Salah satunya dengan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu. Mereka menganyam rumbai, seperti tikar, bakul, dan produk anyaman lainnya,” katanya.

Masyarakat adat ini juga memiliki kelompok tani hutan yang diketuai oleh perempuan bernama Yunani. Terkait ini, kata Utari, CAPPA Keadilan Ekologi mendorong bagaimana perempuan terlibat aktif di kelompoknya.

Baca Juga :  Kapolda Jambi Pimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Patuh 2024

“Kami menempatkan mereka sebagai aktor utama untuk pembangunan kampung transformatif. Perempuan mempunyai ruang dan kesempatan. Kami mendorong perempuan aktif diskusi, pelatihan, dan terlibat dalam forum pengambilan keputusan,” katanya.

Di dalam film dokumenter People Led Development, juga memperlihatkan bagaimana petani pangan, kopi, kayu manis, dan komoditi lainnya dalam mempertahankan pertanian. Salah satunya, Lily Suryani (54), petani sawah di Desa Pematang Pulai, Sekernan, Muaro Jambi, yang mendapatkan pendampingan dari Setara Jambi.

“Kami melakukan pendampingan bagaimana beradaptasi perubahan iklim yang berdampak pada penurunan jumlah atau luas tanaman pangan. Semakin sedikit petani yang bersedia mengelola tanaman pangan,” kata Direktur Setara Jambi Baya Zulhakim.

Tidak hanya menceritakan film dan program Setara Jambi, Baya juga sempat berdialog dengan para mahasiswa terkait perubahan iklim. Para mahasiswa antusias dalam diskusi tersebut.

Sementara itu, Eko Mulia Utomo mengatakan Walhi Jambi mendampingi lima desa di Kabupaten Merangin, Jambi, yang mendapatkan izin hutan desa. Masyarakat di sana mengelola hutan desa sesuai dengan kearifan lokal.

“Yang diketahui masyarakat itu hutan yang dijaga dengan kearifan lokal. Kearifan lokal itu dikukuhkan dalam bentuk peraturan desa. Yang itu menjadi acuan dalam mengelola sumber daya. Jadi mulai dari aturan luasan, titik wilayah yang dikelola, komoditi yang ditanam, diatur dalam aturan itu,” katanya.

Awalnya, kata Eko, hutan desa tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah. Pemerintah hanya memberikan izin. Sampai akhirnya, ada kebijakan di Merangin sehingga tiga tahun terakhir ada dukungan pemerintah dengan dana afirmasi.

Baca Juga :  Pemkab Blitar Bebaskan Sanksi Administratif Piutang Pajak Daerah

“Ini yang menjadi peluang untuk bisa diaplikasikan ke daerah-daerah lain,” katanya.

Bagi Walhi, kata Eko, skema hutan desa bukan menjadi satu-satunya pilihan. Walhi Jambi sendiri memiliki standing Wilayah Kelola Rakyat.

“Wilayah dikelola secara terus menerus dengan kearifan lokal. Tanpa disuruh pemerintah, mereka akan menjaga wilayah itu. Untuk wilayah pangan, kebun dan sebagainya,” katanya.

Nobar dan diskusi ini, termasuk rangkaian HUT ke-13 AJI Jambi dengan mengusung tema “AI untuk Keadilan Iklim”.

Ketua AJI Jambi, Suwandi alias Wendy, mengatakan keadilan iklim berfokus pada kesetaraan dalam distribusi dampak dan beban perubahan iklim, serta akses terhadap sumber daya dan teknologi untuk mengatasi masalah ini.

“AI memiliki potensi untuk membantu komunitas yang paling terdampak oleh perubahan iklim, tetapi sering
kali teknologi ini hanya lebih mudah diakses oleh negara-negara maju dan perusahaan besar,m,” katanya, Kamis (21/11).

Wendy menyampaikan pengembangan solusi berbasis AI, penting untuk melibatkan suara dari komunitas yang paling rentan terdampak oleh perubahan iklim, seperti masyarakat adat, komunitas pesisir, dan
masyarakat marjinal. Tanpa keterlibatan ini, ada risiko bahwa solusi yang dihasilkan tidak akan mempertimbangkan kebutuhan dan konteks lokal mereka.

Ketua AJI Jambi, Suwandi alias Wendy, mengatakan keadilan iklim berfokus pada kesetaraan dalam distribusi dampak dan beban perubahan iklim, serta akses terhadap sumber daya dan teknologi untuk mengatasi masalah ini.

“AI memiliki potensi untuk membantu komunitas yang paling terdampak oleh perubahan iklim, tetapi sering
kali teknologi ini hanya lebih mudah diakses oleh negara-negara maju dan perusahaan besar,m,” katanya, Kamis (21/11).

Baca Juga :  Danrem 042/Gapu Letakkan Batu Pertama Pembangunan Musholla Ar-Rachmad di Koramil 420-09/Bangko

Wendy menyampaikan pengembangan solusi berbasis AI, penting untuk melibatkan suara dari komunitas yang paling rentan terdampak oleh perubahan iklim, seperti masyarakat adat, komunitas pesisir, dan
masyarakat marjinal. Tanpa keterlibatan ini, ada risiko bahwa solusi yang dihasilkan tidak akan mempertimbangkan kebutuhan dan konteks lokal mereka.

AJI Jambi merasa penting memetakan ancaman penerapan AI terhadap
keadilan iklim, agar tidak tergesa-gesa menyimpulkan jika AI adalah solusi dari krisis iklim. Karena itu, AJI Jambi mengusung tema “Etika AI untuk Keadilan Iklim” dan mengadakan berbagai kegiatan.

Berbagai kegiatan yang dimaksud di antaranya nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter “People Led Development”, nonton bareng (nobar) dan diskusi film “Big Bad Biomassa”.

Film pertama merupakan hasil kolaborasi dari Setara Jambi, Walhi Jambi, CAPPA Keadilan Ekologi, dan beberapa NGO lainnya.

Film kedua, Big Bad Biomassa, adalah hasil penelusuran mendalam tentang praktik-praktik kotor di balik kedok transisi energi. Ini adalah cerita tentang ilusi hijau biomassa dan mempertanyakan ulang apakah transisi energi ini benar-benar hijau. Dalam sesi diskusi film ini juga mengarahkan pada persoalan krisis iklim.

Selanjutnya, pada malam harinya, AJI Jambi mengadakan Malom Kenduri HUT ke-13 AJI Jambi yang akan dihadiri para jurnalis, akademisi, dinas terkait lingkungan dan iklim, mahasiswa, komunitas literasi, dan sebagainya.

Dalam kenduri ini, akan ada sharing session “Komunitas Rentan dan Keadilan Iklim”, dan penyerahan AJI Jambi Awards.

Melalui AJI Jambi Awards yang pertama ini, AJI Jambi memberikan penghargaan kepada beberapa individu yang berkontribusi dan berjuang untuk komunitasnya. Perjuangan mereka layak didukung dan diapresiasi.(*)