Pewarna Alami dari Serat Tumbuhan Digunakan Perajin Tas Anyaman Pandan

BITNews.id – Pengrajin tas anyaman di Kota Jambi, Deny Moroyati (53), menggunakan pewarna yang ramah lingkungan. Tidak menggunakan pewarna sintesis atau zat kimia.

Warna tas anyamannya berasal dari serat daun sirih gambir, daun ketapang, dan daun alpukat. Sejumlah tumbuhan itu masih mudah didapatkan.

Untuk menghasilkan zat pewarna dari tumbuhan membutuhkan waktu yang lama. Misalnya warna dari daun alpukat, sebanyak 3 kilogram daun itu direbus dalam air sebanyak 6 liter.

Baca Juga :  Gubernur Al Haris Tegaskan Dukungan Pemprov Jambi untuk Delapan Misi 'Asta Cita' Prabowo-Gibran

“Butuh 3 sampai 4 tabung gas melon, agar mengental menjadi 3 liter. Setelah pekat, disimpan dulu di dirigen,” jelasnya, Minggu (06/02/2022).

Daun pandan yang sudah kering dimasukkan ke pewarna alami itu dalam keadaan mendidih. Namun, pori-pori daun pandan harus dilebarkan terlebih dahulu agar dapat menyatu dengan zat pewarna.

“Uji coba pewarna daun pandan itu agak susah, dibandingkan ke kain. Harus direndam dengan cairan tertentu untuk membuka pori-porinya,” sebutnya.

Baca Juga :  Setelah Perjalanan Panjang dari Aceh, Peserta NMAX Tour Boemi Nusantara Akan Jelajahi Keindahan Alam Kerinci

Ia mengatakan proses pewarnaan pada pandan terbilang sulit. Jika terlalu lama bagian ujung daun pandan bisa rusak.

“Sebaliknya jika kurang lama, pewarnanya tidak menyatu. Tidak boleh ditinggal juga,” katanya.

Dengan serangkaian proses itu, Deny bersama pekerja dan mitranya menghasilkan anyaman pandan yang memiliki warna alami dan tahan lama. Produknya memiliki unsur kebudayaan lokal.

Baca Juga :  MotoGP Mandalika Berlangsung Sukses, Dirut Pertamina Bangga dan Sampaikan Terima Kasih

“Kita sebenarnya tidak hanya menjual karya seni, tapi juga prosesnya. Jadi, untuk pasar dengan konsumen tertentu. Alhamdulillah sejauh ini ada saja yang beli, bahkan rebutan,” ungkapnya. (Bhj)