Satu Rupiah Sangat Berarti, Ada Amanah dan Harapan untuk Saudara Kita di Flores NTT

JAMBI, BITNews.id – Bencana alam tidak pernah memilih siapa yang harus kehilangan. Ketika gempa bumi mengguncang Flores dan sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT), duka yang muncul tidak hanya menjadi milik masyarakat yang berada di lokasi terdampak.

Dari Provinsi Jambi, ribuan kilometer dari wilayah bencana, kepedulian tumbuh dalam bentuk yang sederhana, tetapi memiliki arti besar mengajak masyarakat menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu saudara-saudara yang sedang menghadapi masa sulit.

Gerakan itu diinisiasi oleh Stepanus Hendra. Hatinya terketuk untuk menggagas aksi sosial penggalangan dana untuk korban gempa di Flores dan NTT bertajuk “Solidaritas Aksi Peduli Gempa Flores NTT”.

Ia membentuk sebuah gerakan bernama ‘Komunitas Indonesia Peduli Sesama di Jambi’ yang melibatkan sejumlah elemen masyarakat. Baginya, jarak bukan alasan untuk membiarkan penderitaan orang lain berlalu begitu saja.

Penggalangan dana bukan sekadar aktivitas mengumpulkan uang. Di balik setiap kotak donasi, ajakan berbagi, maupun sumbangan yang diberikan masyarakat, terdapat kepercayaan. Ada harapan agar bantuan yang diberikan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.

“Kami ingin kepedulian masyarakat Jambi bisa menjadi bagian dari upaya membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah di Flores dan NTT,” ujar Stepanus yang sekaligus menjadi Ketua Koordinator kegiatan.

Baca Juga :  Irjen Pol Rusdi Hartono Pimpin Sertijab Wakapolda Jambi

Dikatakan Stepanus, kepedulian terhadap korban bencana kerap berawal dari rasa prihatin. Namun, rasa prihatin akan memiliki arti lebih besar ketika diterjemahkan menjadi tindakan.

Hal itulah yang mendorong Komunitas Indonesia Peduli Sesama di Jambi untuk membuka ruang bagi masyarakat yang ingin ikut membantu.

Tidak semua orang dapat datang langsung ke lokasi bencana. Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menjadi relawan di daerah terdampak. Namun, masyarakat tetap dapat mengambil bagian melalui bantuan yang disalurkan secara bersama-sama.

Di titik inilah solidaritas menemukan wujudnya. Warga yang menyisihkan uang dari penghasilannya, pelaku usaha yang memberikan dukungan, komunitas yang menggalang dana, hingga relawan yang turun ke lapangan, sesungguhnya berada dalam satu mata rantai kemanusiaan dan dipertemukan oleh satu tujuan untuk meringankan beban korban bencana.

Namun, setiap gerakan kemanusiaan membawa tanggung jawab yang tidak ringan. Ketika masyarakat menyerahkan sebagian uangnya untuk korban bencana, yang diberikan sebenarnya bukan hanya nominal. Ada kepercayaan yang ikut dititipkan.

Baca Juga :  Warga Kelurahan Pelabuhan Dagang Serahkan Satu Pucuk Senpi Rakitan ke Polsek Tungkal Ulu

“Karena itu, pengelolaan donasi menjadi bagian penting dari sebuah aksi kemanusiaan, baik tujuan penggalangan, mekanisme penerimaan, jumlah dana yang terkumpul, hingga proses penyaluran merupakan informasi yang penting diketahui publik sesuai kebutuhan dan konteks kegiatan,” paparnya.

Bagi Stepanus, keterbukaan bukan sekadar persoalan administrasi. Transparansi merupakan bagian dari upaya menjaga kepercayaan masyarakat.

“Kami memahami bahwa dana yang diberikan masyarakat merupakan amanah. Karena itu, pengelolaannya harus dapat dipertanggungjawabkan dan bantuan yang terkumpul diupayakan benar-benar memberikan manfaat bagi korban bencana,” ucapnya.

Di Era digital membuat sebuah aksi kemanusiaan dapat diketahui masyarakat luas dalam waktu singkat. Ajakan berdonasi dapat menyebar melalui media sosial. Begitu pula informasi mengenai penyaluran bantuan.

Namun, derasnya arus informasi juga membawa tantangan. Cerita mengenai penggalangan dana dapat berkembang menjadi pertanyaan, kritik, bahkan tudingan ketika informasi mengenai pengelolaannya tidak disampaikan secara jelas.

Bagi Komunitas Indonesia Peduli Sesama di Jambi, lanjut Stepanus menjelaskan, kepercayaan publik merupakan modal penting dalam menjalankan gerakan solidaritas tersebut.

Setiap informasi mengenai kegiatan penggalangan dan penyaluran bantuan perlu disampaikan secara proporsional dan dapat diverifikasi. Dokumentasi kegiatan, informasi jumlah bantuan, serta keterangan mengenai penerima manfaat menjadi bagian dari upaya mempertanggungjawabkan amanah masyarakat.

Baca Juga :  Tak Sanggup Bayar Retribusi Kios, Pedagang Memilih Berjualan di Pelataran Terminal

Pada akhirnya, persoalan penggalangan dana tidak berhenti pada seberapa besar uang yang berhasil dihimpun. Ada proses yang jauh lebih penting, bagaimana dana tersebut dikelola dan bagaimana bantuan itu sampai kepada masyarakat yang menjadi tujuan.

“Niat baik membutuhkan tata kelola yang baik. Semangat kemanusiaan harus berjalan bersama integritas dan tanggung jawab,” tegas Stapnus.

Lebih dari itu, aksi ini menjadi pengingat bahwa solidaritas tidak mengenal batas wilayah. Di tengah reruntuhan dan ketidakpastian, bantuan yang datang dari tangan-tangan orang yang peduli dapat menghadirkan satu hal dan harapan yang sangat berarti.

Sebab, di balik setiap rupiah yang disumbangkan masyarakat, ada keinginan sederhana agar seseorang yang sedang kesusahan tidak merasa sendirian.

“Ketika kita menjaga amanah, transparansi, akuntabilitas, serta ketulusan, penggalangan dana tidak sekadar menjadi kegiatan sosial. Ia berubah menjadi jembatan kemanusiaan menghubungkan antara saudara saudara kita yang sedang membutuhkan,” pungkasnya. (Toy)