Penerapan Metode Drill Untuk Meningkatkan Motivasibelajar dan Prestasi Belajar Baca Tulis Al-qur’an

BITNews.id – Pembelajaran Baca Tulisp Qur’an yang selanjutnya disingkat BTQ merupakan muatan lokal daerah (mulok) yang harus diajarkan di SD yang disampaikan oleh guru Pendidikan Agama Islam. Alokasi waktu pelajaran BTQ per kelas satu jam pelajaran adalah 35 menit per minggu, mengingat mata pelajaran BTQ sangat erat hubungannya dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Dengan demikian pelajaran BTQ diberikan kepada siswa SD sejak dini. Karena usia anak-anak SD merupakan usia ideal untuk mempelajari dan memahami serta melafalkan huruf-huruf hijaiyah.

Selama ini pembelajaran BTQ terutama dalam mengenal Huruf Hijaiyah dan tanda baca menggunakan metode ceramah. Metode ini dilakukan guru berulang-ulang dalam setiap proses  kegiatan belajar mengajar, padahal semestinya guru mampu berinovasi, mengkolaborasikan metode pembelajaran sehingga menumbuhkan minat belajar anak, memberikan stimulus perkembangan intelijensi anak karena materi yang disampaikan menjadi sangat menarik. Guru semestinya juga harus memahami karakteristik dan daya tangkap anak yang cenderung berbeda, maka dengan menggunakan metode yang tepat akan meningkatkan prestasi belajar siswa. Misi meningkatkan prestasi anak akan lebih mendekati dan bisa dicapai bila tata kelola metode ini dilakukan dengan benar. Pemberian pelajaran BTQ kepada siswa SD bertujuan untuk memberikan pemahaman sejak dini menumbuh kembangkan kemampuan anak dalam membaca dan menulis huruf hijaiyah dengan benar. Terkadang dengan keterbatasan guru tidak sempat membiasakan peserta didiknya untuk melakukan metode Drill dalam membaca dan menulis kata atau kalimat dengan huruf hijaiyah. Karena membaca dan menulis huruf hijaiyah tidak bisa sekaligus fasih dan benar, akan tetapi dalam mempelajari BTQ harus dilakukan secara berulang-ulang agar hasilnya maksimal, dengan kata lain sering latihan (Drill) membaca dan menulis huruf Al-Quran atau huruf hijaiyah dengan bimbingan orang yang lebih pandai atau ahlinya (guru).

Pendidikan Agama Islam khususnya BTQ dengan materi Mengenal Huruf-Huruf Hijaiyah dan Tanda-Tanda Baca serta Cara Menulis Huruf Hijaiyah Bersambung itu merupakan materi yang mengandung teori untuk dibaca dan dipahami. Hal itu banyak siswa kurang aktif dalam pembelajaran BTQ. Sering kali guru hanya terpaku pada buku sumber dalam pembelajaran dan juga disebabkan keterbatasan waktu dan juga tidak ada jadwal pembelajaran BTQ serta kurang perhatian dan dukungan pihak sekolah. Guru PAI dituntut untuk dapat menyajikan pembelajaran BTQ dengan sebaik-baiknya walaupun berbagai kendala yang dihadapi. Sebagai guru PAI untuk berusaha meningkatkan prestasi belajar BTQ dengan baik dan benar. Guru PAI di SD dituntut untuk selalu meningkatkan prestasi belajar siswa. Guru memegang peranan penting dan strategis dalam upaya mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Hal tersebut seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Bab XI Pasal 39 Ayat 2 Tahun 2003 yang berbunyi :
“Pendidikan merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melakukan proses pembelajaran melalui penilaian hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terutama pada pendidik perguruan tinggi”.

METODE DRILL

Menurut Surachmad (1980: 79) metode Drill adalah untuk memperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan latihan terhadap apa yang telah dipelajari, karena hanya dengan melakukan secara praktis pengetahuan tersebut dapat disempurnakan dan disiap siagakan. Akan tetapi dengan mengulangi saja apa yang telah dipelajari belum berarti proses belajar.

Menurut Ramayulis disebut latihan siap dimaksudkan untuk memperoleh ketangkasan atau keterampilan latihan terhadap apa yang dipelajari, karena hanya dengan melakukan secara praktis suatu pengetahuan dapat disempurnakan dan siap siagakan (Ramayulis, 2010: 349). Pendapat ini menggambarkan bahwa metode drill tersebut menekankan pada pembelajaran yang bersifat latihan siap untuk keterampilan. Pembelajaran yang dilangsungkan untuk metode ini dimana materi yang akan diajarkan menuntut untuk pada sebuah penguasaan keterampilan peserta didik agar mereka memiliki ketangkasan yang langsung dapat siap dalam pengetahuan diri sendiri.

Sementara Roestiyah mengungkapkan bahwa metode drill adalah suatu cara mengajar di mana peserta didik melaksanakan kegiatankegiatan latihan, peserta didik memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari (Roestiyah, 1985: 125). Pendapat ini menggambarkan bahwa metode drill tersebut menekankan pada cara mengajar guru dalam melaksanakan latihan-latihan pada peserta didik untuk memperoleh ketangkasan yang lebih tinggi dibanding sebelumnya. Di sini tampak bahwa metode drill menginginkan adanya proses pembelajaran di mana terjadi pengerjaan latihan pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik untuk mencapai tingkat ketangkasan pengetahuan peserta didik.

Zuhairini, et. al. (1983: 106) mengatakan bahwa metode drill adalah suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dengan jalan melatih anakanak terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan. Pendapat ini lebih sederhana di bandingkan pendapat sebelumnya, di mana metode drill tersebut secara spesifik merupakan cara mengajar guru dengan melatih peserta didik terhadap bahan yang telah disampaikan oleh guru. Namun pendapat ini memiliki kelemahan karena bila bahan yang telah diberikan atau diajarkan oleh guru dilakukan latihan-latihan oleh peserta didik, apakah ini tidak termasuk dengan evaluasi pembelajaran. Salahuddin mengatakan bahwa metode drill adalah suatu kegiatan dalam melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan sungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu keterampilan supaya menjadi permanen (1987: 100). Menurut Syaiful Sagala, metode drill adalah metode latihan, atau metode training yang merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaankebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan (Sagala, 2009: 21).

Baca Juga :  KPK Ajak Kader PDIP Bersama Tutup Celah Korupsi

Pada masa lampau sudah terbukti di dalam cara-cara guru mendrill murid- murid mereka bahwa pada murid-murid mudah timbul satu kebencian belajar. itulah sebabnya perlu dipahami dalam situasi dimana patut dilakukan latihan- latihan siap yang praktis ini dan bagaimana caranya.

Pertama harus disadari bahwa tidak ada latihan belajar yang betul-betul berarti pengulangan yang persis sama dengan proses belajar sebelumnya. Karena situasi yang berbeda serta pengaruh latihan pertama, maka latihan kedua, ketiga, dan seterusnya akan lain sifatnya.

Selanjutnya situasi belajar itulah yang mula-mula belajar harus diulangi untuk dapat memperoleh respons dari siswa. Bila siswa dihadapkan dengan berbagai situasi belajar (apalagi bila situasi itu menjadi situasi belajar yang realistis), maka pada siswa timbul alasan untuk    memberikan respon, sehingga menyebabkan dia melatih  keterampilannya. Apabila situasi belajar itu dapat diubah-ubah kondisinya  sehingga  menuntut adanya respon  yang berubah, maka keterampilan akan lebih disempurnakan. Disamping itu tak dapat dilupakan  bahwa  ada  keterampilan   yang  dapat  disempurnakan  dalam waktu yang lama (sehingga  tak dapat  dituntut  kesempurnaan  dalam waktu yang singkat), dan ada keterampilan yang dapat diperoleh dengan  waktu yang singkat dengan latihan yang minimal. Banyak metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Salah satunya adalah metode drill. Metode Drill adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran pendidikan agama Islam dengan jalan melatih peserta didik secara berulang-ulang dan sungguh-sungguh dalam bentuk lisan, tulisan, maupun aktivitas fisik agar peserta didik memiliki ketangkasan atau keterampilan yang tinggi dalam menguasai bahan pelajaran, memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu keterampilan supaya menjadi permanen. Metode drill dapat digunakan baik pada saat mengajarkan kecakapan motoris maupun kecakapan mental.

Namun demikian, metode drill ini juga memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Oleh karenanya, diperlukan langkah-langkah khusus agar penggunaan metode drill ini dapat berjalan dengan efektif sehingga hasil pembelajaran Pendididikan Agama Islam (PAI) dapat mencapai hasil maksimal. Adapun langkah-langkah metode drill tersebut adalah: asosiasi, menyampaikan tujuan yang hendak dicapai, memotivasi peserta didik, melakukan latihan dengan pengulangan secara bertahap, aplikasi, evaluasi dan tindak lanjut. Metode pengajaran yang baik adalah metode yang mampu mengantarkan peserta didik dalam berbagai macam kegiatan, dalam hal ini peserta didik harus diberi kesempatan untuk melatih kemampuannya, misalnya menyelesaikan tugas-tugas dan latihan-latihan. Salah satu metode yang digunakan guru dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah metode drill atau latihan. Drill atau latihan merupakan metode mengajar yang dapat digunakan untuk mengaktifkan peserta didik pada saat proses belajar mengajar berlangsung karena metode drill menuntut peserta didik untuk selalu belajar dan mengevaluasi latihan-latihan yang diberikan oleh guru. Metode drill sering disebut orang sebagai latihan siap dan hal ini menunjukkan bahwa seorang guru PAI harus memperhatikan bagaimana cara melatih peserta didik hingga mereka memiliki kemampuan yang tinggi. Latihan yang harus dipersiapkan oleh guru PAI dalam sebuah metode tidaklah sama dengan latihan yang sering dilakukan guru pada saat akhir pembelajaran. Sebab latihan yang dilakukan pada akhir pembelajaran mengarah pada evaluasi hasil belajar peserta didik. Inilah hal penting yang harus diperhatikan oleh guru PAI dalam menjalakan metode drill tersebut untuk mencapai pembelajaran yang maksimal. Apabila guru PAI ingin menggunakan metode drill ini dalam pembelajaran bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) maka haruslah betul-betul memperhatikan langkah demi langkah dalam desainnya. Sebab tak jarang seorang guru lalai dalam memperhatikan langkah-langkah penggunaan sebuah metode pembelajaran. Guru PAI tidak lagi mengajar dengan menggunakan sebuah metode sesuai dengan seleranya saja, akan tetapi mulailah bergerak dengan melakukan eksplorasi dan memperhatikan langah-langkah penggunaan sebuah metode, termasuk dalam hal ini metode drill.

MOTIVASI BELAJAR

Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan kesiapan nya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Sedangan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Usman, 2000: 28).
Selanjutnya menurut Djamarah (2002: 114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001: 3) bahwa siswa yang termotivasi dalam belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik.

Baca Juga :  Sistem One Way Kembali Diterapkan Saat Arus Balik di Jakarta

Jadi motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
PRESTASI BELAJAR

Menurut W.J.S Poerwadarminto (1984: 788) bahwa prestasi belajar adalah  hasil  yang telah  dicapai  atau dilakukan oleh  seseorang. Menurut E. M. Zulfajri (2008:  670) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil baik yang dicapai seseorang, sedangkan menurut Ebel (1987: 12) pengertian kata prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh seseorang dalam belajar.

Menurut Arifin (1988: 2 – 3) kata prestasi berasal dari Bahasa Belanda yaitu prestasi yang artinya hasil usaha. Kata prestasi dapat digunakan dalam berbagai bidang dan kegiatan, antara lain dalam kesenian, olahraga, dan pendidikan khususnya pengajaran. Dengan kata lain yang dimaksud prestasi belajar adalah suatu hasil yang telah dicapai siswa terhadap sejumlah materi dalam rangka memperoleh suatu perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.

Untuk meningkatkan prestasi belajar di sekolah diperlukan usaha yang berkesinambungan dari guru. Merencanakan dan menciptakan suatu situasi belajar baik di sekolah maupun di rumah. Belajar memerlukan situasi yang kondusif, nyaman, dan menyenangkan bagi siswa agar memungkinkan terjadinya pembelajaran aktif, kreatif, dan inovatif.

Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya) (Dikbud, 1984: 769).
Dalam memperoleh prestasi belajar ditentukan oleh kemampuan intelektual siswa, untuk mengukur kemampuan siswa perlu dilakukan evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah kegiatan belajarmengajar berlangsung.

Adapun prestasi dapat diartikan sebagai hasil yang diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan. Namun banyak orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu dan menuntut ilmu.

Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena belajar merupakan proses, sedangkan prestasi adalah hasil dari proses belajar. Poerwanto (1962: 2) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu hasil yang dicapai seseorang dalam usaha belajar sebagaimana dinyatakan dalam rapor. Winkel (1996: 162) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan atau kemampuan belajar seorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.

Dari pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa prestasi belajar tingkat kemampuan siswa dalam menerima pengetahuan yang diperoleh dalam proses belajar mengajar siswa dikatakan berprestasi jika sudah melakukan evaluasi, dengan evaluasi untuk mengetahui tinggi rendahnya prestasi belajar siswa. Dan kata lain prestasi belajar adalah nilai yang baik dari suatu perilaku seseorang yang dicapai dengan usaha. Dengan demikian untuk meningkatkan prestasi belajar di sekolah diperlukan usaha yang berkesinambungan dari guru, merencanakan dan menciptakan situasi belajar baik di sekolah maupun di rumah. Belajar memerlukan situasi yang kondusif, nyaman, dan menyenangkan bagi siswa. Agar memungkinkan terjadinya pembelajaran aktif, kreatif, dan inovatif dengan usaha ini dapat menghasilkan prestasi yang baik. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar. Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana diharapkan maka perlu diperhatikan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu :

a. Faktor Intern

1.Faktor Jasmaniah
Yaitu Faktor kesehatan, sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya/bebas dari penyakit.

2. Faktor Psikologis
Pengaruh faktor psikologis Meliputi : Intelijensi (Kecerdasan), perhatian, Bakat, minat, Motif, Kematangan dan kesiapan.

3. Faktor kelelahan
1) Kelelahan jasmani, terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dantimbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh.
2) Kelelahan rohani, dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan sehingga minat dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang.

b. Faktor Ekstern

Faktor ekstern adalah faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya diluar diri siswa, Menurut Slameto (1995: 60) faktor ekstern yang mempengaruhi belajar adalah keluarga, keadaan sekolah, lingkungan masyarakat, yang diuraikan sebagai berikut:

Baca Juga :  Kasad Akan Merekrut Calon Prajurit dari Santri

1. Faktor Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan.

2. Faktor Keadaan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga formal pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan siswa, karena lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong siswa dalam belajar.

3. Faktor Lingkungan Masyarakat
Lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalam proses pelaksanaan pendidikan, karena lingkungan sekitar berpengaruh terhadap perkembangan pribadi anak, sebab anak-anak dalam kehidupan sehari-hari banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak itu ada .. (http://ridwan202.wordpress.com )
Kesimpulannya bahwa lingkungan membentuk pribadi anak, karena anak akan mengikuti atau menyesuaikan kebiasaan yang dilakukan dilingkungannya.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Baca Tulis Al- Quran

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar secara garis besar ada dua hal yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa meliputi delapan faktor, yaitu ciri khas siswa, sikap terhadap belajar, motivasi, konsentrasi belajar, mengolah bajan belajar, menggali hasil belajar, rasa percaya diri dan kebiasaan belajar (Aunurahman, 2009: 179).

Pertama, ciri khas siswa, persoalan intern pembelajaran berkaitan dengan kondisi kepribadian siswa baik fisik maupun mental. Masalah-masalah belajar yang berkenaan dengan dimensi siswa sebelum belajar pada umumnya berkenaan dengan minat, keceakapan dan pengalaman-pengalaman. Bila siswa mempunyai minat tinggi, maka ia akan berupaya mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan apa yang akan dipelajari secara lebih baik. Siswa yang memiliki latar belakang pengalaman yang baik yang mendukung materi pelajaran yang akan dipelajari, tidak memiliki banyak masalah sebelum dan sesudah dalam proses belajar selanjutnya.

Kedua, sikap terhadap belajar, ketika akan memulai kegiatan belajar, siswa memiliki sikap menerima untuk belajar, maka ia akan cenderung untuk berusaha terlibat dalam kegiatan belajar dengan baik, namun jika sikap menolak sebelum belajar lebih dominan, maka siswa cenderung kurang memperhatikan.

Ketiga, motivasi, siswa yang memiliki motivasi belajar akan tampak melalui kesungguhan untuk terlibat di dalam proses belajar, akan tetapi siswa yang kurang memiliki motivasi umumnya kurang mampu belajar lebih lama.

Keempat, konsentrasi belajar, kesulitan konsentrasi dalam belajar merupakan indicator adanya masalah belajar yang dihadapi sisw, karena hal ini akan menjadi kendala untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan.

Kelima, mengolah bahan ajar, bilamana dalam proses belajar siswa mengalami kesulitan di dalam mengolah pesan, maka berarti ada kendala pembelajaran yang dihadapi siswa yang membutuhkan bantuan guru.

Keenam, menggali hasil belajar, suatu proses mengaktifkan kembali pesan-pesan yang telah tersimpan di namakan menggali belajar. Kesulitan di dalam menggali hasil belajar merupakan kendala di dalam proses pembelajaran karena siswa akan mengalami kesulitan untuk mengolah pesanpesan baru yang dimiliki keterkaitannya dengan pesan-pesan lama yang telah diterima sebelumnya.

Ketujuh, rasa percaya diri, bilamana siswa sering mencapai keberhasilan di dalam melaksanakan tugas, di dalam menyelesaikan suatu pekerjaan apabila diiringi dengan adanya pengakuan umum atas keberhasilan yang dicapai maka rasa percaya diri siswa akan semakin kuat.
Kedelapan, kebiasaan belajar, kebiasaan belajar adalah perilaku belajar sesorang yang telah tertanam dalam waktu relative lama sehingga memberikan ciri dalam aktivitas belajar yang dilakukan.

“Faktor-faktor eksternal belajar adalah faktor yang berasal dari luar siswa meliputi: faktor guru, lingkungan sosial, dan kurikulum sekolah, sarana dan prasarana” (Aunurrahman, 2009: 188).

Pertama, faktor guru. Bilamana dalam proses pembelajaran, guru mampu melaksanakan tugas-tugas yang baik mampu memfasilitasi kegiatan belajar siswa- siswi, mampu memotivsi belajar siswaa, membimbing dan member kesempatan secara luas untuk memperoleh pengalaman belajar maka siswa akan mendapat dukungan yang kuat untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan.
Kedua, lingkungan sosial. Lingkungan sosial dapat memberikan pengaruh positif dapat pula memberikan pengaruh negative terhadap siswa.

Ketiga, kurikulum sekolah. Kurikulum sekolah, dalam rangkaian proses belajar mengajar di sekolah kurikulum merupakan panduan yang dijadikan guru sebagai kerangka acuan untuk mengembangkan proses pembelajaran. Perubahan kurikulum pada sisi lain juga menimbulkan masalah, antara lain: a) tujuan yang akan dicapai berubah, b) isi pendidikan berubah, dan c) kegiatan belajar mengajar berubah dan evaluasi berubah.

Keempat, sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana pembelajaran merupakan faktor yang turut memberikan pengaruh terhadap hasil belajar siswa. Keadaan gedung sekolah dan ruang kelas yang tertata dengan baik, ruang perpustakaan yang teratur, tersedianya fasilitas kelas dan laboratorium, buku buku pelajaran, media belajar merupakan komponen-komponen penting yang mendukung terwujudnya kegiatan-kegiatan belajar siswa.

Penulis : Nuril Hidayah (merupakan Guru SDN 85 Tanjung Katung, Muaro Jambi