Bayang-Bayang Ibu di Ujung Ramadhan

Oleh : Fransisko Chaniago

Tidak terasa, tiga puluh hari telah dilalui dalam keheningan yang berbeda. Ramadhan tahun ini berjalan tanpa warna yang sama seperti sebelumnya. Hari-hari tetap berganti, waktu terus berjalan sebagaimana mestinya, tetapi ada ruang kosong yang tak mampu diisi oleh apa pun. Di setiap detik yang berlalu, bayang-bayang ibu hadir sebagai penyejuk hati, menggantung di ingatan, seolah memutar kembali kisah Ramadhan tahun lalu yang penuh kehangatan dan kebahagiaan.

Dulu, suara ibu adalah alarm paling lembut yang pernah ada. Ia tidak sekedar membangunkan untuk sahur, tetapi juga membangunkan jiwa dengan sentuhan kasih yang tak tergantikan. Panggilannya sederhana, namun penuh makna. Ada kelembutan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan dalam keadaan mengantuk, ada ketenangan yang terasa ketika membuka mata dan mengetahui ibu ada di sana. Kini, sahur menjadi sunyi. Tidak ada lagi suara lembut itu, tidak ada lagi langkah kaki yang perlahan menghampiri kamar. Tidak ada lagi tangan yang mengetuk pintu dengan penuh kesabaran. Yang tersisa hanyalah kesunyian yang panjang, ditemani ingatan yang terus berulang dalam diam.

Begitu pula saat berbuka. Dulu, meja makan bukan sekedar tempat menyantap hidangan, melainkan ruang penuh cinta yang diracik oleh tangan ibu. Setiap masakan bukan hanya soal rasa, tetapi tentang perhatian, tentang kepedulian, tentang doa yang diam-diam diselipkan di setiap sajian. Ada kehangatan yang tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menenangkan hati. Kini, makanan tetap ada, tetapi kehangatan itu seolah ikut hilang. Tidak ada lagi tatapan penuh kasih yang memastikan kita makan dengan cukup. Tidak ada lagi suara ibu yang mengingatkan dengan penuh kelembutan. Semua terasa berbeda, dan perbedaan itu terasa begitu dalam hingga menyentuh bagian hati yang paling rapuh.

Baca Juga :  Menelaah Kebijakan yang Kontradiktif: Ketika Efisiensi Anggaran Berbenturan dengan Realitas Politik

Bagi mereka yang masih memiliki ibu, Ramadhan adalah kesempatan yang bisa diulang. Kesempatan untuk kembali merasakan hangatnya pelukan, mendengar nasihat yang kadang terasa sederhana namun sarat makna, dan menikmati kebersamaan yang sering kali dianggap biasa. Namun, bagi mereka yang telah kehilangan ibu, Ramadhan adalah ruang rindu yang tak pernah selesai. Ia bukan sekedar bulan ibadah, tetapi juga bulan penuh kenangan yang datang tanpa permisi, mengetuk hati dengan cara yang paling hening.

Rumah yang dulu terasa hidup, kini berubah menjadi ruang yang sepi. Dinding-dindingnya masih sama, perabotannya masih tersusun rapi, tetapi suasananya tidak lagi serupa. Ada yang hilang, dan kehilangan itu tidak kasat mata, tetapi terasa hingga ke dalam jiwa. Bayang-bayang ibu sering kali hadir di sudut-sudut rumah, seolah ia masih ada. Seolah ia masih berjalan di dapur, masih duduk di ruang tamu, masih memanggil nama kita dengan suara yang penuh kasih. Kadang terasa seperti ilusi, tetapi justru itulah yang membuat hati semakin rapuh. Kita tahu ia telah tiada, tetapi kenangan tentangnya begitu nyata dan tak pernah benar-benar pergi.

Lebaran yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, justru terasa hampa tanpa kehadiran ibu. Takbir yang berkumandang di malam hari membawa perasaan yang bercampur antara syukur dan duka. Suara takbir yang menggetarkan langit itu seakan menjadi pengingat bahwa ada sosok yang dulu selalu menyambut hari raya dengan penuh suka cita, namun kini hanya bisa dikenang dalam doa. Di satu sisi, ada rasa haru karena telah menyelesaikan ibadah Ramadhan. Namun di sisi lain, ada luka yang kembali terbuka, luka kehilangan yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Baca Juga :  Al Haris di Kancah Nasional

Sudut-sudut rumah menyimpan kenangan yang tak tergantikan. Tempat ibu biasa duduk, dapur tempat ia memasak, bahkan suara peralatan yang dulu sering terdengar, semuanya menjadi saksi bisu akan kehadiran yang kini hanya tinggal dalam ingatan. Hari raya yang dulu penuh tawa, kini ditemani oleh air mata yang jatuh diam-diam. Tangis yang bukan hanya karena kehilangan, tetapi juga karena kerinduan yang tak pernah menemukan tempat untuk berlabuh.

Ini bukan sekedar cerita satu orang. Ini adalah kisah banyak hati yang pernah kehilangan ibu. Baik mereka yang dulu hidup di satu atap maupun yang merantau jauh, rasa kehilangan itu tetap sama. Jarak tidak pernah mengurangi cinta seorang ibu, dan kepergiannya tidak pernah benar-benar bisa diterima dengan mudah. Bahkan bagi mereka yang dulu hanya bisa mendengar suara ibu dari kejauhan, kehilangan itu tetap menyisakan ruang kosong yang tak tergantikan.

Ibu adalah sosok yang sering kali tidak disadari betapa besarnya perannya, hingga akhirnya waktu mengajarkan dengan cara yang paling menyakitkan, yaitu kehilangan. Ia adalah rumah, tempat kembali yang paling aman. Ia adalah pelindung dalam diam, yang menguatkan tanpa harus banyak bicara. Ia adalah doa yang tak pernah putus, bahkan ketika kita tidak memintanya. Ia adalah cinta yang tidak bersyarat, yang tetap ada bahkan ketika dunia terasa menjauh.

Sering kali, kita baru memahami betapa berharganya kehadiran ibu setelah ia tidak lagi berada di sisi kita. Nasihat yang dulu terasa biasa, kini menjadi sesuatu yang sangat dirindukan. Perhatian kecil yang dulu dianggap sederhana, kini menjadi kenangan yang begitu berarti. Bahkan hal-hal yang dulu mungkin kita abaikan, kini justru menjadi bagian yang paling kita rindukan.

Baca Juga :  SE Batubara

Lebaran tanpa ibu mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam keramaian. Kadang, ia hadir dalam doa yang lirih, dalam air mata yang jatuh tanpa suara, dalam ingatan yang terus hidup meski raga telah tiada. Ibu mungkin telah pergi, tetapi cintanya tidak pernah benar-benar hilang. Ia hidup dalam setiap langkah kita, dalam setiap doa yang kita panjatkan, dan dalam setiap rindu yang kita rasakan.

Ketika takbir berkumandang, biarkan air mata itu jatuh. Bukan sebagai tanda kelemahan, tetapi sebagai bukti bahwa cinta kepada ibu begitu dalam. Dalam setiap doa di hari yang suci itu, sebutlah namanya dengan penuh harap. Kirimkan doa terbaik untuknya, sebagaimana dulu ia tidak pernah lelah mendoakan kita dalam setiap sujudnya. Semoga ia tenang di sisi-Nya, dan semoga segala kebaikannya menjadi cahaya yang menerangi perjalanannya.

Sebagai penutup, Lebaran bukan lagi sekedar tentang baju baru, hidangan yang tersaji, atau keramaian yang memenuhi rumah. Lebaran telah berubah menjadi ruang sunyi yang dipenuhi doa dan rindu yang tak bertepi. Di antara gema takbir yang berkumandang, ada nama ibu yang diam-diam disebut dengan penuh harap, seolah memastikan bahwa cinta itu tetap sampai, meski jarak telah dipisahkan oleh takdir.

Barangkali, inilah makna terdalam dari kehilangan, ketika kita belajar mencintai dengan cara yang berbeda, mencintai tanpa bisa memeluk, merindukan tanpa bisa bertemu. Dalam setiap sujud yang panjang, hanya satu doa yang terus dipanjatkan, semoga ibu senantiasa berada dalam pelukan kasih-Nya, sebagaimana dulu ia tak pernah lelah memeluk kita dengan cinta yang paling tulus.

Penulis adalah Dosen UIN STS Jambi