Oleh : Arie Suriyanto
Apabila kita melihat kondisi pertanian yang ada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, saat ini benar-benar sangat memprihatinkan, dimana lahan-lahan pertanian yang selama ini masih produktif harus menghadapi alih fungsi lahan menjadi lahan perkebunan.
Degradasi perubahan yang begitu cepat, tentunya disebakan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor yang sulit terhindarkan adalah masalah menurunnya produksi hasil pertanian masyarakat dari setiap pasca panen, dimana tahun-tahun sebelumnya para petani masih bisa panen untuk satu kali musim tanam mampu menghasilkan gabah kering mencapai 6 sampai 7 ton setiap hektarnya.
Ambo feri salah seorang kelompok Tani Makmur Desa Simpang Datuk, berkeluh kesah terhadap produksi hasil panan mereka yang terus menerus mengalami penurunan.
Selain itu, faktor ketersediaan air merupakan salah satu pemicu menurunnya hasil produksi pertanian para petani, karena pada saat musim tanam, tentunya padi yang sudah ditanam banyak membutuhkan air, namun dengan adanya kebocoran tanggul dan saluran tresier, akhirnya air tersebut tidak dapat masuk ke areal persawahan, sehingga padi yang sudah di tanam kurang subur.
Ditambahkan oleh Ambo Feri, bahwa tahun 2008 hingga 2014, kondisi pengairan Irigasi pertanian di wilayah Simpang Datuk yang memiliki luas areal pertanian mencapai 1.100 hektar dan berkembang sangat pesat sekali, karena pada waktu itu perbaikan tanggul masih di bawah kendali kewenangan Balai Wilayah Sungai Sumatera VI.
Namun belakangan ini perbaikan saluran irigasi telah beralih kewenangan dibawah Dinas PUPR Provinsi Jambi.
Sepertinya, kebijakan di bidang pertanian hanya mengedepankan kuantitas di banding kualitas, sehingga wajar saja, apabila sejumlah Lahan Pangan Pertanian Berkelanjutan (LP2B) yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Nomor 18 tahun 2013 seluas 17.000 hektar terus berkurang luasannya.
Dalam menghadapi gejolak krisis pangan yang akan melanda sejumlah negara di dunia, tentunya pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi pertanian dengan mempertahan Indonesia sebagai salah satu negara yang mampu mendorong ketahanan pangan melalui pertanian.
Namun sangat disayangkan bahwa kebijakan pertanian di nilai belum sepenuhnya berpihak kepada petani.
Penulis adalah Pemerhati Publik Kabupaten Tanjung Jabung Timur
