Perspektif Beberapa Ormas Terhadap Walisongo Perihal Akulturasi Budaya Jawa dengan Budaya Islam Menurut Perspektif Hukum Adat

Oleh : Muhammad Rizky

Proses islamisasi di Jawa yang dilakukan oleh Walisongo sering disebut sebagai islamisasi dengan cara sinkretis. Jika ditinjau dari artinya sinkretis berarti suatu proses perpaduan dari beberapa paham-paham atau aliran-aliran agama atau kepercayaan.

Pada sinkretisme terjadi proses pencampuradukkan berbagai unsur aliran atau paham, sehingga hasil yang didapat dalam bentuk abstrak yang berbeda untuk mencari keserasian, keseimbangan. Oleh karena itu cara dakwah yang dilakukan oleh Walisongo cenderung memadukan antara dua paham atau agama. Yang mana hal demikian itulah yang menyebabkan masyarakat Jawa yang saat itu masih kental dengan ajaran Hindu-Budha, lebih mudah menerima ajaran –ajaran yang dibawa oleh Walisongo.

Bagaimana beberapa ormas melihat akulturasi budaya Jawa dengan budaya Islam berdasarkan pemahaman dan tata keadilan mereka. Beberapa ormas, seperti ormas Salafiyah, percaya bahwa budaya Jawa harus disesuaikan dengan sharia untuk menjadi budaya Islam.

Baca Juga :  Program Dumisake Jambi Mantap: Refleksi dan Pengaruhnya pada Kekuatan Koalisi Haris-Sani

Mereka melakukan ini dengan menggunakan seni budaya seperti wayang dan macapat sebagai cara untuk mengakulturasi budaya Jawa dengan budaya Islam. Ini disebabkan oleh prinsip-prinsip dakwah, yang mencakup pemahaman, diskusi, dan pemahaman tentang peran masyarakat dalam menerapkan sharia dalam kehidupan sehari-hari.

Sangat penting untuk diingat bahwa para Walisongo tidak selalu menggunakan metode kultural atau sinkretis dalam menjalankan dakwah mereka. Beberapa Walisongo menggunakan pendekatan asli dalam dakwah mereka. Jadi, di mana Walisongo berdakwah, kebudayaannya akan berbeda-beda.

Meskipun demikian, ini tidak berarti bahwa masuknya Islam yang dibawa Walisongo mengubah budaya lokal yang sudah ada sebelumnya. Karena itu, apapun hasilnya, dakwah Walisongo melalui akulturasi ini pasti meninggalkan warisan kebudayaan atau agama yang sudah ada.

Baca Juga :  Bangsa Petarung

Banyak orang sekarang menganggap bahwa Jawa adalah rumah bagi TBC (tahayul, bid’ah, dan churafat). Mengapa hal ini terjadi? Sebab banyak kebudayaan di Jawa berasal dari penyesuaian antara dua ideologi atau budaya. Slametan, seperti tradisi slametan, adalah cara orang Jawa menunjukkan rasa terima kasih atas nikmat yang telah mereka terima. Orang-orang animisme dan dinamisme sebelumnya melakukan tradisi slametan ini sebagai cara untuk menghormati roh-roh nenek moyang, yang dilakukan pada bulan Ruwah atau Sya’ban.

Tradisi kebudayaan Jawa yang tetap dilestarikan oleh mereka seperti upacara tradisonal Panjang Jimat dan grebeg yang dilakukan oleh beberapa keraton adat Jawa, maupun dalam memadukan berbagai upacara tersebut yang berkaitan dengan Islam seperti perayaan hari besar Islam seperti riaya (lebaran), punggahan, muludan, dan sawalan.

Baca Juga :  Protokoler

Tradisi budaya tersebut juga dilestarikan dalam upacara tradisional yang berkaitan dengan siklus pertanian dan perikanan seperti sedekah bumi (mapag sri dan bebarik atawa baritan), sedekah laut (nadran), ngarot, jaringan dan seren taun, dalam upacara ‘penyucian diri” seperti sedekah tamba (ruwatan), tirakatan, nyepi (berkhalwat di tempat sunyi), kliwonan (tirakatan di Gunung Jati pada hari jum’at Kliwon) dan ngirab serta dalam berbagai upacara yang berkaitan dengan kehidupan manusia seperti upacara perkawinan (hajat walimah), ngunduh mantu, mitoni atau nebus weteng (upacara tujuh bulan kandungan), jagongan bayi (muyen), njenengi, kekah (aqikah), mudun lemah, cukuran dan sunatan. Maupun upacara yang berhubungan dengan kematian pemberian shalawat dan tahlilan setelah jenazah disembayangkan.

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya