DASTING UMB Hadirkan Hidroponik di Desa Sri Kuncoro Menuju Desa Zero Stunting

BENGKULU, BITNews.id – Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) melalui Program Inovasi Sosial Berbasis Komunitas DASTING (Dasawisma Tanggap Stunting) melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pembuatan hidroponik dan edukasi gizi di Desa Sri Kuncoro.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus mendukung pencegahan stunting menuju Desa Zero Stunting.

Kegiatan pengabdian Masyarakat ini dipimpin oleh Dr. Ida Samidah dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu selaku Ketua Tim Peneliti, dengan anggota Eva Oktavidiati dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu dan Rina Aprianti dari STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu.

Program DASTING mendorong masyarakat, khususnya kelompok Dasawisma, untuk memanfaatkan lahan terbatas sebagai sumber pangan sehat melalui teknologi hidroponik. Masyarakat mendapatkan pendampingan dalam pembuatan instalasi, penyemaian, pemeliharaan, pemberian nutrisi hingga pemanfaatan hasil panen.

Baca Juga :  Gubernur Al Haris: RKLA Perkuat Kerukunan Beragama di Provinsi Jambi

Dr. Ida Samidah menjelaskan bahwa hidroponik dipilih sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan kemandirian pangan keluarga.

“DASTING tidak hanya membangun instalasi hidroponik, tetapi juga meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyediakan pangan bergizi secara mandiri. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi kebiasaan berkelanjutan di tingkat keluarga dan komunitas,” ujarnya.

Selain praktik hidroponik, program juga mengintegrasikan edukasi gizi agar masyarakat memahami pentingnya konsumsi pangan beragam dan bergizi dalam pencegahan stunting. Hasil urban farming diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber sayuran segar bagi keluarga.

Melalui DASTING, tim pengabdian UMB bersama mitra mendorong Dasawisma menjadi penggerak pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan ketahanan pangan, literasi gizi, dan kesehatan keluarga.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan pendampingan mulai dari pengenalan sistem hidroponik, persiapan instalasi, penyemaian benih, pemberian nutrisi, pemeliharaan tanaman hingga proses panen. Jenis tanaman yang dikembangkan diarahkan pada sayuran yang mudah dibudidayakan dan memiliki nilai gizi bagi keluarga, seperti pakcoy, selada, kangkung dan berbagai sayuran daun lainnya.

Baca Juga :  Al Haris Bahas Jalan Khusus Batubara dengan Menteri Perhubungan

Menurut tim pengabdian, keberadaan hidroponik diharapkan tidak berhenti sebagai fasilitas fisik, tetapi berkembang menjadi “kebun gizi” berbasis komunitas. Hasil panen dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus menjadi media pembelajaran bagi masyarakat mengenai hubungan antara produksi pangan, konsumsi makanan bergizi dan pencegahan stunting.

Dalam pelaksanaan DASTING, kelompok Dasawisma ditempatkan sebagai salah satu aktor utama pemberdayaan masyarakat. Anggota Dasawisma tidak hanya dilatih mengenai teknik hidroponik, tetapi juga didorong untuk meningkatkan kemampuan organisasi, pembagian tugas, pengelolaan kegiatan, pencatatan serta keberlanjutan program.

Dr. Ida Samidah menjelaskan bahwa keberhasilan program sangat ditentukan oleh keberlanjutan setelah kegiatan pengabdian selesai.

Baca Juga :  Wakil Ketua I DPRD Muaro Jambi Hadiri Pengukuhan Kades dan BPD serta Peringatan Hari Anak Nasional

“Target kami bukan sekadar membangun instalasi hidroponik. Yang lebih penting adalah membangun kapasitas masyarakat agar mereka mampu mengelola, merawat, memanfaatkan dan mengembangkan program secara mandiri. Karena itu, pemberdayaan Dasawisma menjadi bagian penting dari DASTING,” jelasnya.

Program ini juga mendorong anggota Dasawisma untuk memiliki keterampilan baru dalam mengelola kebun keluarga. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi secara bertahap mampu mengelola dan mengembangkan instalasi hidroponik secara mandiri.

Program ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat dalam jangka pendek, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat Desa Sri Kuncoro sehingga mampu mengelola urban farming secara berkelanjutan sebagai bagian dari strategi menuju Desa Zero Stunting. (Yl)