Oknum Dosen Porkes Unja Didemo Karena Aniaya dan Hina Mahasiswa Disabilitas

JAMBI, BITNews.id – Puluhan Mahasiswa Universitas Jambi (Unja) melakukan aksi unjuk rasa meminta rektor mengusut tuntas dugaan kasus pengniayaan oknum dosen terhadap salah satu mahasiswa penyandang disabilitas. Aksi ini dilakukan di depan Rumah Dinas Rektor Unja, Telanaipura, Kota Jambi, Selasa (20/12/2022).

Kasus ini mencuat dan heboh belakangan ini, oknum dosen Unja bernama David Ikroni dilaporkan mahasiswanya sendiri karena diduga melalukan kekerasan dan penghinaan terhadap AW, mahasiswa Program Studi Olahraga dan Kesehatan (Porkes) Unja penyandang disabilitas.

Baca Juga :  Polda Sumut Tangkap Tiga Pelaku Penganiaya Wartawan, Pelaku Diduga Suruhan Bandar Narkoba

“Kami minta kepada Rektor Unja untuk usut tuntas kasus ini, dosen David Ikroni dipecat dan diproses hukum oleh pihak kepolisian,” ujar Zikri, salah satu mahasiswa yang berorasi.

Pendemo mengatakan pihak kampus sempat mencoba melakukan intervensi terhadap proses hukum, agar kasus ini diproses secara kekeluargaan dan kasusnya tidak diperpanjang.

“Ini bukan aksi yang pertama kali, tapi ini sudah yg ketiga kali dilakukan oleh dosen tersebut, kami ingin kasus ini diusut sampai tuntas,” ujar mahasiswa lainnya yang ikut aksi.

Baca Juga :  Berkunjung ke Vietnam, Pemkab Batanghari Harapkan Kades Tangguh Terapkan Ilmu di Masing-masing Desa

“Bahkan korban dipukul bukan hanya sekali tapi sebanyak tiga kali,” tambahnya.

Mahasiswa yang mendapat kekerasan sudah melaporkan kasus tersebut ke Polda jambi, tetapi sempat mendapat ancaman dari dosen bersangkutan, bahkan David Ikroni menghina fisik korban dan keadaan ekonomi keluarga korban.

“Kalau kamu berani melapor kasus ini ke polisi, habis nanti kamu di kampus, kata dosen David Ikroni kepada korban,” ujar Zikri saat menyampaikan orasinya.

Baca Juga :  Ditreskrimum Polda Jambi Gagalkan Aksi Perdagangan Pekerja Migran Ilegal ke Malaysia

Selain itu, kata mahasiswa, dua bulan yang lalu salah satu mahasiswi Unja juga mendapat pelecehan seksual, dan belum dituntaskan kasusnya hingga kini, sekarang kekerasan terhadap mahasiswa disabilitas.

“Aturannya kampus adalah rumah kami, tapi ternyata malah perlakuan yang tidak wajar yang kami (mahasiswa/i-red) terima, lalu kemana lagi kami harus mengadu, kami menentang semua bentuk kejahatan di dunia pendidikan,” ujar Rey, mahasiswa lainnya. [Afd]