Pengamat Sosial Jambi Sebut Budaya Sepak Bola Tanah Air Harus Ditinjau

JAMBI, BITNews.id – Sebuah insiden yang kini menjadi salah satu tragedi terkelam dalam sejarah penyelenggaraan sepakbola tanah air, yakni tragedi di Stadion Kanjuruhan beberapa waktu lalu, yang mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia dan mengalami cidera.

Insiden tersebut terjadi di Stadion Kanjuruhan di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sekitar 3.000 penonton dilaporkan memasuki area lapangan setelah klub Arema Malang dinyatakan kalah 2-3 melawan Persebaya Surabaya dalam pertandingan Liga 1.

Dr Noviardi Ferzi, pengamat ekonomi yang juga Sosiolog masalah sosial Jambi, saat dikonfirmasi mengatakan awal dari tragedi ini ketika pendukung Arema yang kecewa dengan kekalahan tersebut melemparkan botol dan benda lain ke arah pemain serta manajemen sebelum menyerbu lapangan, yang akhirnya berujung pada kerusuhan.

Baca Juga :  Al Haris Hadiri Maulid Nabi di Kampus Abuya Salek: Didoakan Dua Periode

“Reaksi atas tindakan pendukung Arema ini, berdasarkan rekaman video yang beredar menunjukkan pihak berwenang dari kepolisian menembakkan gas air mata serta mengejar para pendukung tersebut dalam upaya memulihkan ketertiban, serta petugas polisi yang menggunakan senjata tongkat dan perisai. Karena panik, terjadi rebutan untuk keluar. Di sini lah malapetaka itu terjadi, terjadi desakan dan himpitan yang membuat ratusan jiwa kehilangan nyawa,” ujarnya, Senin (10/10/2022).

Noviardi menyebutkan, dalam hal ini dirinya fokus mempelajari cara menerapkan keselamatan di acara besar, termasuk turnamen olahraga. Dan ia juga melihat beberapa aspek yang menjadi satu benang merah dalam tragedi Kanjuruhan.

Baca Juga :  Atasi Penyimpangan Distribusi Pupuk Bersubsidi, Polda Jambi Kumpulkan Stakeholder Pertanian di FGD

“Pertama, total tiket yang terjual adalah 42.000, sementara daya tampung maksimal stadion tersebut hanyalah 38.000. Dan kedua, di tempat yang begitu padat itu, keputusan polisi untuk menembakkan gas air mata hanya akan membuat orang-orang yang ada di stadion itu panik dan situasi semakin kacau,” jelasnya.

Ia menerangkan, Stadion Kanjuruhan hanya memiliki satu pintu keluar sekaligus pintu masuk, dan biasanya dalam pertandingan olahraga yang kompetitif emosi penonton mudah meningkat.

“Jadi, tidak heran bila hiruk-pikuk kerumunan penonton yang bergegas ingin keluar stadion melalui hanya satu pintu keluar rentan menyebabkan kematian dan cedera,” katanya.

Baca Juga :  Gubernur Ansar Lantik Luki Zaiman Prawira sebagai Pj Sekda Kepri

Selanjutnya, Noviardi mengatakan kekerasan biasa terjadi dalam pertandingan sepak bola di Indonesia, serta banyak laporan mengenai pendukung yang memukuli pendukung tim lain. Dirinya berharap kedepan, para pemangku kepentingan harus fokus mengembangkan strategi pencegahan yang dapat mengurangi dan mengantisipasi dampak buruk, serta memastikan polisi cukup terlatih untuk menangani peristiwa semacam itu.

“Indonesia juga secara mendesak perlu meninjau budaya sepak bolanya secara keseluruhan. Dan jika sejarah adalah sesuatu untuk dilalui, pihak berwenang harus mengambil langkah drastis untuk memastikan peristiwa Kanjuruhan tidak akan pernah terulang kembali,” katanya. (Nst)