JAMBI, BITNews.id – Sejarah migrasi dan keterhubungan budaya Austronesia menjadi pijakan Kumiscacing dalam melahirkan karya musik terbaru berjudul “Yangtze”.
Unit musik independen eksperimental asal Jambi tersebut menjadikan lagu ini sebagai ruang untuk mempertemukan isu sejarah, identitas, stigma sosial, dan pengalaman personal dalam satu rangkaian musikal.
“Yangtze” merupakan salah satu nomor utama dalam Austronesia, kepingan kedua karya Kumiscacing. Melalui rilisan ini, mereka tidak sekadar mengeksplorasi bunyi, tetapi juga mengajak pendengar meninjau kembali narasi tentang akar budaya yang menghubungkan masyarakat Nusantara dengan kawasan Asia Timur.
Salah satu gagasan yang diangkat berkaitan dengan hubungan sejarah masyarakat Austronesia dengan kawasan pesisir Tiongkok Selatan.
Dari gagasan tersebut, Kumiscacing kemudian mengaitkannya dengan persoalan stigma yang masih melekat terhadap masyarakat Indonesia-Tionghoa hingga saat ini.
Pertanyaan mengenai bagaimana masyarakat yang memiliki keterhubungan sejarah dapat tumbuh dengan narasi dan stigma berbeda menjadi salah satu landasan pesan dalam “Yangtze”.
Tema tersebut kemudian dipadukan dengan kritik terhadap berkurangnya empati serta kecenderungan menilai orang lain tanpa memahami latar belakangnya.
Secara historis, karya ini merujuk pada hipotesis arkeolog Peter Bellwood pada 1986 serta penelitian genetika Hui Li pada 2007 yang mengaitkan jejak awal leluhur pra-Austronesia dengan wilayah pesisir Tiongkok Selatan, termasuk kawasan sekitar Sungai Yangtze.
Dalam narasi yang dibangun Kumiscacing, kelompok pra-Austronesia tersebut kemudian bermigrasi menuju Taiwan sebelum menyebar ke wilayah Nusantara hingga Pasifik.
Kemampuan navigasi dan perkembangan teknologi perahu bercadik menjadi bagian dari perjalanan migrasi yang menjadi latar gagasan dalam karya tersebut.
Kumiscacing juga menyoroti kemiripan sejumlah tradisi di kawasan delta Sungai Yangtze dengan tradisi di Nusantara. Hubungan tersebut digunakan sebagai pijakan untuk mengajak pendengar melihat sejarah kebudayaan secara lebih luas dan memahami kemungkinan adanya akar sejarah yang saling berkaitan.
Namun, “Yangtze” tidak hanya berbicara tentang sejarah dan antropologi. Di dalamnya terdapat lapisan cerita personal mengenai proses menerima kenyataan dan melepaskan ekspektasi dalam sebuah hubungan.
Lagu tersebut merekam dialog batin Kaché tentang batas kemampuan seseorang dalam mempertahankan hubungan ketika harapan dan kenyataan tidak lagi berjalan searah. Pergulatan itu tergambar dalam penggalan lirik:
YANG TERSEMATKAN OLEHMU
TAK KU INDAHKAN PINTAMU
YANG TERSIRATKAN OLEH LAKU
TELAH KU SELAMI SEPANJANG WAKTU.
Pesan tentang penerimaan kemudian menguat pada bagian berikutnya:
KU TELAH USAI
DIA BENAR ADA
DAN SELANJUTNYA
KAU (Ku) KAN TERBIASA.
Bagi Kumiscacing, bagian tersebut menggambarkan keberanian untuk mengakui bahwa sebuah hubungan telah mencapai batas akhir. Keikhlasan kemudian menjadi bagian dari proses menghadapi kenyataan, meskipun tidak selalu sesuai dengan harapan.
Nuansa tersebut berlanjut melalui penggalan lirik:
SUNGGUH TAK APA
BILA YANG TERSISA HANYALAH HINA
TELAH KUBERI SEMUA RASA.
Di sisi lain, karya ini juga memasukkan kritik terhadap persoalan sosial melalui lirik, “TAK BERBUDAYA / JIKA KAU TERUS TANPA TANYA.” Penggalan tersebut menjadi penghubung antara persoalan empati dan stigma sosial dengan gagasan yang lebih besar mengenai hilangnya ingatan terhadap akar budaya.
Dari aspek produksi, “Yangtze” ditulis dan diproduseri secara mandiri oleh Ahmad Hanif atau Kumiscacing. Permainan drum diisi Imam Fathoni, sementara trek bass bergaya stakato pada bagian “Mutiara dan Kerang Laut” direkam Joko Satriyo.
Tahap mixing dan mastering dikerjakan Hadiyan Fazhari. Proses tersebut dilakukan untuk menjaga setiap lapisan harmoni sekaligus memastikan pesan yang dibangun melalui musik dan lirik dapat tersampaikan kepada pendengar. (*)
