BITNews.id – Target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt-peak (GWp) dalam tiga tahun ke depan tidak hanya menuntut percepatan pembangunan infrastruktur, tetapi juga kesiapan teknologi operasional dan sumber daya manusia (SDM) untuk menjaga keandalan pembangkit dalam jangka panjang.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi nasional. Namun, keberhasilannya tidak cukup diukur dari besarnya kapasitas PLTS yang terpasang. Pembangkit yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia juga perlu dipantau, dioperasikan, dan dipelihara secara optimal agar mampu menghasilkan listrik secara andal selama masa produktifnya.
Co-Founder sekaligus Director of Technology Xurya, Edwin Widjonarko, mengatakan pengelolaan PLTS harus menjadi perhatian sejak awal, seiring dengan rencana pembangunan pembangkit dalam skala besar.
“Ketika kita berbicara tentang 100 GWp PLTS, kita juga perlu memikirkan bagaimana seluruh kapasitas ini bisa terus beroperasi setiap hari. Sebab, kemandirian energi bukan hanya tentang membangun pembangkit, tetapi juga memastikan PLTS tetap berfungsi optimal sepanjang masa produktifnya. Dengan masa produktif lebih dari 20 tahun, kita perlu memastikan setiap PLTS terus terpantau kondisinya, gangguan dapat direspons dengan cepat, dan aset dapat dikelola dari jarak jauh (remote) meskipun tersebar di berbagai wilayah Indonesia,” ujar Edwin.
Xurya merupakan perusahaan energi terbarukan di Indonesia yang mengembangkan skema sewa PLTS. Perusahaan tersebut mengklaim telah memiliki pengalaman mengoperasikan lebih dari 300 proyek PLTS yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Pengalaman itu mencakup pengelolaan PLTS di atas atap bangunan, lahan terbuka, kawasan perkotaan, hingga daerah terpencil. Keragaman lokasi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menjaga kinerja pembangkit, terutama ketika jumlah sistem yang harus dikelola terus bertambah.
Edwin menjelaskan, pengoperasian dan pemeliharaan atau operation and maintenance (O&M) PLTS tidak hanya berkaitan dengan pembersihan modul surya. Ada berbagai aspek teknis yang perlu diperiksa secara berkala untuk memastikan sistem bekerja sesuai kapasitas dan standar operasional.
“Masih ada anggapan bahwa pengoperasian dan pemeliharaan (O&M) PLTS hanya sebatas membersihkan modul surya. Padahal, ada banyak aspek lain yang perlu diperhatikan untuk menjaga kinerja PLTS tetap optimal. Tim operator perlu memantau produksi listrik harian hingga ke tingkat larik panel, memastikan sensor berfungsi dan terkalibrasi dengan baik, memeriksa kondisi lahan dan jalur air, serta melakukan pemeliharaan dan menangani gangguan yang muncul. Tim juga harus menganalisa data untuk memahami apakah penurunan produksi disebabkan oleh cuaca, performa sistem, atau kesalahan pengukuran,” kata Edwin.
Untuk mengelola ratusan sistem secara efisien, Xurya memanfaatkan berbagai teknologi yang berkaitan dengan Industri 4.0. Pemantauan dilakukan secara menyeluruh dan waktu nyata (real-time), mencakup aspek keselamatan, konektivitas jaringan, performa sistem, telemetri, serta kondisi cuaca yang berpotensi memengaruhi produksi listrik.
Pendekatan tersebut digunakan untuk membantu operator mengidentifikasi perubahan kinerja, menganalisis gangguan, dan menentukan langkah penanganan berdasarkan data. Xurya juga menyebut pendekatan pengelolaannya mengacu pada standar global dari International Electrotechnical Commission (IEC).
Salah satu contoh penerapan teknologi tersebut terdapat pada PLTS hibrida di luar jaringan (hybrid off-grid) yang beroperasi di area pertambangan PT Central Omega Resources Tbk, Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
Sistem tersebut memiliki kapasitas PLTS sebesar 256 kilowatt-peak (kWp) dan dilengkapi sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 251 kilowatt-jam (kWh). Berdasarkan keterangan perusahaan, sistem itu mulai beroperasi pada September 2026.
Berbeda dengan PLTS yang terhubung ke jaringan listrik, sistem hybrid off-grid harus mengintegrasikan panel surya, baterai, dan sumber listrik lain, seperti generator diesel, untuk menjaga keandalan pasokan energi di lokasi operasional.
Dalam sistem tersebut, teknologi Industri 4.0 memungkinkan tim ahli Xurya memantau kinerja dan mengelola pengoperasian pembangkit dari jarak jauh. Pemantauan ini membantu tim mengawasi kondisi sistem tanpa harus selalu berada di lokasi pembangkit.
Xurya juga menyatakan bahwa otomatisasi pemrosesan data mampu memangkas waktu analisis masalah hingga lebih dari 90 persen. Dengan demikian, tim dapat mengidentifikasi potensi gangguan dan menentukan langkah penanganan secara lebih cepat.
Pengalaman mengelola satu sistem PLTS di lokasi terpencil memberikan gambaran mengenai peran teknologi dalam mendukung operasional pembangkit. Namun, pengelolaan PLTS berkapasitas total 100 GWp akan menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks.
Ribuan sistem PLTS berpotensi tersebar di berbagai wilayah dengan karakteristik lokasi, konfigurasi peralatan, dan kondisi operasional yang berbeda. Setiap sistem juga dapat terdiri atas ratusan hingga ribuan modul surya yang terhubung dengan berbagai perangkat elektronika daya, seperti inverter, transformator, dan baterai.
Dalam skala tersebut, pemantauan berbasis data dan otomatisasi menjadi salah satu pendekatan untuk membantu menjaga produktivitas, mendeteksi gangguan, serta mendukung pemeliharaan aset selama masa operasional pembangkit.
Di samping teknologi, pengelolaan PLTS juga membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi lintas bidang. Keahlian yang diperlukan mencakup teknik sistem tenaga (power engineering), ilmu data (data science), analisis jaringan komunikasi, pemrograman, pemecahan masalah, hingga pengelolaan aset dan inventaris.
Menurut Edwin, perkembangan industri PLTS akan meningkatkan kebutuhan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis lapangan, tetapi juga kemampuan analitis dan penguasaan teknologi digital.
“Kompetensi yang dibutuhkan semakin beragam dan menuntut keterampilan analitis yang lebih kuat, bukan semata-mata hard skill yang selama ini banyak ditemukan pada teknisi lapangan,” ujar Edwin.
Ia menilai, pengembangan PLTS dalam skala besar juga dapat mendorong peningkatan keterampilan (skill upgrade) dan membuka peluang kerja profesional di sektor kelistrikan.
“Artinya, perkembangan sektor PLTS juga akan mendorong peningkatan keterampilan (skill upgrade) dan pengembangan SDM yang berkualitas di sektor kelistrikan. Bayangkan, dengan 100 GWp PLTS, berapa banyak lapangan kerja profesional dengan tingkat penghasilan tinggi yang tidak hanya tercipta, tetapi juga dapat bertahan selama puluhan tahun ke depan. Instalasi PLTS hanya membutuhkan waktu beberapa bulan, sedangkan pengoperasiannya dapat berlangsung lebih dari 20 tahun,” lanjutnya.
Pengembangan SDM menjadi salah satu aspek yang perlu dipersiapkan agar pembangunan PLTS dapat memberikan manfaat berkelanjutan. Ketersediaan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri diperlukan untuk mendukung pengoperasian, pemeliharaan, dan pengelolaan aset dalam jangka panjang.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Xurya menghadirkan Solar Academy Indonesia (SAI), sebuah program yang berfokus pada pengembangan pengetahuan dan kapasitas sumber daya manusia di industri energi surya.
Melalui program ini, Xurya berbagi pengetahuan dan praktik industri untuk memperluas pemahaman mengenai energi surya sekaligus mendorong tenaga kerja lokal mengembangkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri, baik saat ini maupun pada masa mendatang.
Edwin menilai, program pembangunan PLTS dalam skala besar dapat menjadi peluang untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Saya yakin, jika dikelola dengan baik, program 100 GWp ini dapat menjadi kesempatan emas untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal Indonesia. Transisi energi bukan hanya mendukung kemandirian energi, tetapi juga membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan,” tutup Edwin.
Dengan demikian, pencapaian target pembangunan PLTS 100 GWp tidak hanya bergantung pada kecepatan pemasangan pembangkit. Kesiapan teknologi pemantauan, sistem pemeliharaan, serta tenaga kerja yang kompeten juga menjadi faktor penting untuk menjaga keandalan pembangkit dan memastikan manfaat energi surya dapat dirasakan dalam jangka panjang. (*/)
