Arca Amoghapasa Sebagai Bukti Bahwa Dharmasraya Telah Terkenal Sejak Dahulu

BITNews.id – Beberapa tahun yang lalu Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat belum dikenal oleh banyak orang, terutama masyarakat yang berada di luar daerah sumatera. Namun, dibawah kepimpinan orang nomor satu di Kabupaten Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan, Dharmasraya saat ini mulai dilirik oleh seluruh kalangan. Baik dari kalangan masyarakat awam hingga ke pejabat tinggi dibawah kepemimpinan Presiden RI, Joko Widodo.

Terkenalnya Dharmasraya di berbagai kalangan dikarenakan impian Sutan Riska untuk memperkenalkan Dharmasraya di kancah nasional hingga internasional, melalui Festival Pamalayu Swarnabhumi dan Sungai Batanghari ke Unesco. Sehingga dapat dicatat sebagai warisan dunia, dengan begitu dunia turut serta bertanggung-jawab dalam melakukan pemberdayaan Batanghari.

Serta pelestarian budaya yang berkembang di Kabupaten Dharmasraya yang notabenenya adalah bekas Kerajaan Malayu Kuno. Dengan tekad yang kuat, Sutan Riska ingin menjadikan ekspedisi pamalayu di Sungai Batanghari menjadi agenda tahunan untuk mengingatkan kembali generasi berikutnya. Bahwa di Kabupaten Dharmasraya, ekspedisi Pamalayu di Sungai
Batanghari merupakan jalur rempah untuk peradaban dunia. Dan layak untuk selalu dikenang, diingat dan dipelajari.

MAYA DWI EFFENDI – WARTAWAN MADYA

Melirik Dharmasraya Dahulu, Sebuah Daerah yang Ramai dan Penting

Tak hanya sebagai jalur rempah untuk peradaban dunia, ekspedisi pamalayu di Sungai Batanghari juga sebagai pengingat bahwa peradaban masa lalu, dengan banyaknya catatan peninggalan sejarah dan nilai-nilai persatuan dan persahabatan antar dua kerajaan besar yaitu Kerajaan Melayu Dharmasraya dan Kerajaan Singosari.

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya meminta dukungan dari pemerintah pusat. Agar Sungai Batanghari diakui dunia melalui UNESCO sebagai pusat jalur rempah Sumatera, yang keberadaannya harus dilindungi sebagai sebuah budaya kemaritiman dunia. Tak hanya itu, rangkaian perjalanan ekspedisi pamalayu dalam festival pamalayu juga didaftarkan ke badan PBB sebagai warisan kepurbakalaan masa silam dari Kerajaan Malayu Kuno yang sangat kesohor dan berjaya di abad ke 8-12 Masehi.

Bercerita tentang sejarah ekspedisi Pamalayu di Sungai Batanghari sebagai jalur rempah peradaban dunia, Raja Siguntur Sutan Hendri, mengatakan bahwa di Padang Roco inilah, Bhairawa berdiri gagah sambil memandang Sungai Batanghari. Arca Bhairawa merupakan perwujudan dari sosok Raja Adityawarman. Bhairawa ditemukan pada tahun 1935 di pinggir Sungai Batanghari di tengah persawahan kompleks Percandian Padang Roco menghadap ke arah timur, dan dibawahnya mengalir air Sungai Batanghari. Arca raksasa ini berasal dari abad XIV.

“Di Padang Roco inilah tempat Bhairawa berdiri gagah memandang ke arah sungai, dulu siapapun yang lewat pasti melihat Bhairawa. Karena jika melewati daerah ini, mereka akan melihat kegagahan dan kebesaran dari Bhairawa tersebut. Bahkan, Pemkab Dharmasraya sudah pernah mengusulkan agar Arca Bhairawa dapat diduplikat, sehinga dapat kembali ke tempat asalnya. Sehingga dapat menjadi salah satu ikon wisata sejarah di Kabupaten Dharmasraya,” jelas Sutan Hendri.

Baca Juga :  Jemaah Patuhi Aturan, Air Zamzam dalam Koper Bagasi Berkurang Drastis

Ekspedisi Pamalayu ini, bukanlah misi penaklukan akan tetapi Ekpedisi Pamalayu merupakan misi persahabatan atau kekerabatan dari Kerajaan Singasari kepada saudara-saudara serumpun mereka di Bumi Melayu. Hal ini dapat diketahui dari Prasasti Padang Roco yang ditemukan pada tahun 1911 di hulu Sungai Batanghari, salah satu bukti bahwa misi Ekspedisi Pamalayu membawa misi damai bukan peperangan yang selama ini dikatakan orang kalau ekspedisi Pamalayu merupakan misi Jawa merebut Sumatera.

Selain itu, Prasasti Padang Roco tahun 1208 Saka atau 1286 Masehi menjadi alas dari Arca Amoghapāśa yang pada 4 sisinya terdapat manuskrip. Di prasasti ini dipahatkan 4 baris tulisan dengan aksara Jawa Kuno dan memakai dua bahasa, yakni bahasa Melayu Kuno dan bahasa Sanskerta.

Untuk itu, berdasarkan penelitian dari manuskrip yang tergurat di prasasti tersebut, Arca Amoghapasa dimaksudkan sebagai hadiah atau persembahan persahabatan dari Raja Kertanegara kepada penguasa Dharmasraya, Srimat Tribhuwanaraja Mauliawarmadewa.

Berdasarkan buku terbitan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar dengan judul Menguak Tabir Dharmasraya, diketahui bahwa nama Dharmasraya di dalam Prasasti Dharmasraya pada tahun 1286 M, sebagai sebuah nama daerah atau lokasi tempat didirikannya Arca Amoghapasa.

Dari berita prasasti tersebut dapat diperkirakan bahwa Dharmasraya merupakan daerah yang cukup ramai dan penting pada masa itu, sehingga Arca Amoghapasa yang dikirim Kertanegara sebagai tanda persahabatan dengan Tribhuwana Mauliwarmadewa perlu didirikan di daerah Dharmasraya.

Pendirian Arca Amoghapasa di Dharmasraya sudah melalui pertimbangan, hal ini dikarenakan lokasi tersebut cukup ramai, dapat dikunjungi dan dapat diperhatikan oleh sebagian besar penduduk kerajaan Melayu. Bukan hanya itu saja, Dharmasraya saat itu dianggap sebagai lokasi yang dekat dengan tempat tinggal raja.

Bahkan Kota Dharmasraya saat itu, telah dianggap sebagai kota yang mempunyai peranan sangat penting. Dan sebagai sebuah ibukota kerajaan Melayu. Pernyataan ini dapat ditelusuri dari naskah kuno Nagarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca tahun 1365 M. Sehingga pernyataan bahwa Dharmasraya merupakan kota yang ramai, dan memiliki peranan sangat penting terbukti dari tulisan Mpu Prapanca.

Dharmasraya juga bukan hanya sebagai kota yang penting bagi Kerajaan Melayu, namun juga sebagai kota yang sangat penting bagi Kerajaan Majapahit. Sebab, ada versi yang mengatakan bahwa Dharmasraya masih merupakan Negara bawahan Kerajaan Majapahit pada sekitar tahun 1365 M pada saat kitab sastra tersebut ditulis oleh Mpu Prapanca.

Pada tahun 1286 kota Dharmasraya juga telah menjadi pusat pemerintahan atau ibukota Kerajaan Melayu sampai dengan tahun 1347 M. Tahun terakhir masa pemerintahan Adityawarman, yang didasarkan pada Prasasti Amoghapasa 1347 M. Pada tahun yang sama, kemungkinan Adityawarman sudah berada di daerah Tanah Datar, sesuai dengan pertanggalan yang ditulis dalam Prasasti Pagaruyung III.

Baca Juga :  Polisi Jadi Pahlawan di Dongeng Buatan Anak, Kapolri: Tanamkan dan Jadikan Semangat Jadi Lebih Baik

Prasasti Pagaruyung III ditulis dalam huruf Jawa Kuno dan bahasa Sansekerta, yang isinya hanya menyebut pertanggalan dalam bentuk Candrasengkala, yaitu kalimat yang susunan katanya dapat diartikan sebagai suatu angka.

Dharmasraya Bakal Menjadi Salah Satu Wisata Sejarah Dunia

Sebagai salah satu pemimpin yang memikirkan bagaimana daerah yang dipimpinnya dapat berkembang pesat, Sutan Riska Tuanku Kerajaan yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) ingin mengenalkan Kabupaten Dharmasraya ke kancah dunia. Dengan cara menggelar Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi, yang sudah sukses digelar sebanyak dua kali.

Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi ini merupakan gagasan dari Bupati Dua periode di Kabupaten Dharmasraya, yang ingin memperkenalkan sejarah peradaban Sungai Batanghari dan seluruh situs sejarah yang ada di Kabupaten Dharmasraya kepada seluruh dunia. Dan ternyata usaha dari Sutan Riska untuk mengenalkan Dharmasraya telah terbukti nyata, Festival Pamalayu sukses digelar.

Kenduri sejarah ini telah menyedot perhatian masyarakat dari berbagai daerah, para pejabat dari berbagai daerah pun datang ke Dharmasraya untuk menyaksikan Festival Pamalayu. Dan ratusan jurnalis dari media lokal maupun media terbitan Jakarta turut serta hadir untuk menyiarkan berita Festival Pamalayu kepada seluruh negeri. Bahkan, puluhan influencer sengaja datang untuk membuat konten di media sosialnya. Tak terbilang para ahli dan pemerhati sejarah turut menjambangi Bumi Malayu Dharmasraya selama perhelatan berlangsung.

“Alhamdulillah kegiatan Festival Pamalayu yang sudah dilakukan dua kali di Kabupaten Dharmasraya berlangsung sukses dan sudah menyedot seluruh kalangan. Saya ingin, Festival Pamalayu ini dapat dijadikan sebagai agenda rutin setiap tahunnya. Sehingga Dharmasraya dapat menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang ada di Indonesia, dan terkenal sampai ke seluruh dunia. Karena memang Dharmasraya sudah terkenal sejak dahulunya,” ungkap Bupati dua periode ini.

Dampak positif dari kegiatan Pamalayu ini pun terlihat jelas untuk masyarakat Kabupaten Dharmasraya. Salah satunya adalah ekonomi masyarakat saat itu turut bergerak karena kegiatan Festival Pamalayu. Uang yang berputar diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah perharinya. Puluhan UMKM binaan Pemkab Dharmasraya turut memamerkan dan menjajakan produknya. Bahkan ratusan pedagang keliling yang datang dari penjuru Dharmasraya ikut ketiban rezeki Pamalayu, dagangan mereka ludes terjual.

Bukan hanya itu saja, hotel dan penginapan di Dharmasraya selama Festival Pamalayu penuh oleh pengunjung yang datang dari luar daerah. Rumah makan serta restoran yang ada di Kabupaten Dharmasraya terlihat ramai oleh pengunjung, ini membuktikan dagangan yang dijajakannya laris oleh para pengunjung untuk menyaksikan Festival Pamalayu tersebut.

Baca Juga :  Jasa Raharja Gelar FGD Rencana Kebijakan Santunan Selektif untuk Korban Laka Lantas

“Karena sejarah yang ada di Dharmasraya, bukan sekedar cerita rakyat. Akan tetapi cerita yang benar-benar terjadi, dan ini diungkapkan oleh para sejarahwan, arkeolog dan yang berkompenten di bidang sejarah, dan kita tidak membelokkan sejarah yang ada. Oleh karena itu, Festival Pamalayu ini memang sangat penting untuk digelar sehingga generasi muda khususnya di Dharmasraya dan seluruh masyarakat yang ada di dunia mengetahui bahwa memang sejarah di Dharmasraya ada bukan hanya sebuah cerita rakyat saja. Dan saya bersyukur, dengan adanya kegiatan ini banyak yang ketiban rezeki. Karena perputaran uang saat acara Festival berlangsung sangatlah banyak,” urai Sutan Riska.

Bupati juga berharap di Dharmasraya dapat terus melakukan upaya pelestarian sejarah agar nilai-nilai luhur budaya yang ada dalam suatu tradisi budaya dapat tetap dipertahankan, walaupun telah melalui proses perubahan bentuk budaya. Dengan tujuan, agar dapat menjaga keberadaan budaya itu sendiri sebagai warisan dari nenek moyang kepada generasi penerus yang akan datang.

Sehingga upaya pelestarian untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan nilai-nilai adat dan budaya dalam kehidupan bermasyarakat dapat terus terjaga dengan baik.

Untuk itu, Pemkab Dharmasraya melalukan strategi pelestarian budaya daerah dengan cara pemeliharaan menjaga keberlanjutan kebudayaan sebagai warisan, pengembangan untuk meningkatkan memperkaya dan menyebarluaskan kebudayaan. Dan dengan cara pemanfaatan pendayagunaan objek pemajuan kebudayaan untuk memperkuat ideologi sosial dan budaya.

Selain itu melakukan sosialisasi tentang pentingnya pengembangan dan pelestarian budaya lokal, mengajak masyarakat untuk membangkitkan kembali kebudayaan lokal yang ada, dan membentuk kelompok pengembangan kebudayaan generasi muda.

Bahkan untuk penguatan sektor pelestarian dan pengelolaan cagar budaya Pemkab Dharmasraya melakukan keberlanjutan ekskavasi candi kerjasama dengan BPCB, penetapan warisan budaya benda dan tak benda. Serta pembentukan tim ahli cagar budaya kabupaten. Dengan sasaran pencapaian dari itu semua adalah untuk meningkatnya pelestarian seni daerah, meningkatnya fungsi adat dalam kehidupan masyarakat, meningkatnya pelestarian warisan budaya dan meningkatnya pelestarian cagar budaya. Sehingga kedepannya, Dharmasraya dapat dijadikan sebagai salah satu detinasi wisata sejarah yang dilirik oleh wisatawan lokal maupun wisatawan luar negeri yang ingin mengetahui lebih dalam dan lebih detail tentang sejarah-sejarah yang ada di Kabupaten Dharmasraya. Terutama tentang sejarah candi, situs, dan lain sebagainya yang terkait tentang sejarah di Kabupaten Dharmasraya.

“Saya sangat berharap suatu saat nanti, Kabupaten Dharmasraya dapat menjadi salah satu destinasi sejarah dunia. Akan banyak wisatawan luar negeri yang ingin berkunjung ke Dharmasraya, melihat secara langsung situs situs yang terkenal pada peradaban zaman dahulu di Dharmasraya,” pungkas Bupati.(*/Red)