Anak SD dan Dunia yang Terlalu Cepat, Siapa yang Mengajarkan Pelan-Pelan?

Oleh: Sarafuddin, S.Pd.,M.Pd

Pernahkah kita melihat anak Sekolah Dasar (SD) yang berjalan ke sekolah sambil memegang ponsel, memeriksa notifikasi, atau membicarakan game online terbaru dengan teman-temannya?
Pemandangan itu kini begitu biasa, seolah menjadi simbol bahwa masa kecil sudah ikut berlari,  mengejar dunia yang tak pernah berhenti bergerak. Anak-anak kita hidup di era di mana kecepatan menjadi ukuran segalanya yakni belajar cepat, tumbuh cepat, bahkan dewasa sebelum waktunya.

Namun, di tengah hiruk pikuk digitalisasi, kompetisi, dan target akademik, muncul pertanyaan sederhana namun mendalam, yaitu siapa yang mengajarkan mereka untuk pelan-pelan?

Kurikulum sekolah dasar kini semakin padat yang terdiri dari literasi, numerasi, proyek profil Pancasila, asesmen nasional, hingga kegiatan ekstrakurikuler yang menuntut performa. Semuanya penting, tetapi dalam kecepatan yang berlebihan, sering kali kita lupa bahwa anak-anak butuh waktu untuk menjadi anak-anak.

Anak SD seharusnya masih punya ruang untuk salah, waktu untuk bermain, dan kesempatan untuk diam. Namun yang terjadi, mereka justru dibebani target belajar seolah hidup adalah lomba tanpa garis akhir. Mereka dituntut untuk bisa membaca di usia dini, menghafal banyak materi, atau mengikuti berbagai kursus tambahan bahkan sebelum mengenali dirinya sendiri.

Baca Juga :  Opini : Pilihan Jalan atau Hanya Berpetualang

Apakah ini bentuk kemajuan, atau justru tanda bahwa kita kehilangan arah kemanusiaan dalam pendidikan dasar? Padahal, pendidikan sejati tidak mengenal tempo seragam.
Setiap anak memiliki irama belajar yang berbeda, sebagaimana bunga yang mekar pada waktunya masing-masing.

Tugas guru bukan mempercepat semua anak agar sampai di tempat yang sama, melainkan mendampingi mereka menemukan kecepatannya sendiri. Dalam dunia yang memuja hasil, guru seharusnya menjadi sosok yang berani mengingatkan bahwa proses adalah hal yang paling berharga.

Anak-anak zaman dulu tumbuh dengan permainan tradisional, bercanda di lapangan, dan mendengar dongeng sebelum tidur. Kini, mereka tumbuh dengan layar, notifikasi, dan algoritma yang mengatur apa yang harus disukai. Dunia anak yang penuh imajinasi dan empati perlahan tergantikan oleh dunia yang cepat, visual, dan instan. Kemudian muncul pertanyaan, jika semua serba cepat, kapan anak-anak belajar merasakan?

Baca Juga :  Pemerintah Utak-atik Kemenristek dengan Kemendikbud, Kembali Disatukan dalam Satu Kesatuan

Belajar pelan-pelan bukan hanya soal ritme belajar, tetapi juga tentang belajar memahami emosi, menunggu giliran, mendengarkan orang lain, dan menikmati kebersamaan. Nilai-nilai itu tak bisa diajarkan lewat PowerPoint atau aplikasi pembelajaran, melainkan tumbuh dari interaksi manusiawi antara guru, teman, dan keluarga. Di sinilah peran guru SD menjadi sangat penting. Guru bukan hanya pengajar kurikulum, tapi juga penjaga ritme kehidupan anak-anak di tengah dunia yang semakin terburu-buru.

Guru SD yang baik tahu kapan harus mendorong anak untuk berlari, dan kapan harus menuntunnya untuk berhenti sejenak. Mengajarkan anak bahwa istirahat bukan berarti malas, bahwa lambat bukan berarti bodoh, dan setiap langkah kecil pun memiliki arti.

Baca Juga :  Mahasiswa “Berdamailah dengan Teknologi”

Anak-anak tidak hanya butuh guru yang pintar, tetapi juga guru yang sabar.

Tidak hanya butuh sekolah yang berprestasi, tetapi juga sekolah yang manusiawi. Ketika dunia terus menekan dengan kata “lebih cepat”, biarlah sekolah menjadi ruang di mana anak-anak belajar tentang makna “cukup” dan “tenang”. Sebab kelak, yang mereka butuhkan bukan sekadar kecepatan berpikir, tetapi kedalaman hati untuk memahami kehidupan.

Mungkin kita tidak bisa menghentikan lajunya dunia, tapi kita bisa mengajarkan anak-anak untuk tidak kehilangan diri di dalamnya. Menjadi guru SD bukan hanya mengajarkan berhitung, tetapi juga mengajarkan ritme hidup  bahwa berjalan pun bisa indah, selama dilakukan dengan hati.

Jadi, ketika dunia berkata, “Cepatlah!” Biarlah guru berkata,

“Pelan-pelan, Nak. Dunia tidak akan ke mana-mana. Nikmati perjalananmu.”

Penulis adalah Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Slamet Riyadi, Surakarta