Oleh: Dr. Hairul Fauzi, S.Pd.I., M.Pd.
Transformasi digital, Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), dan globalisasi telah mengubah secara mendasar cara dunia pendidikan berjalan. Sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi berlomba-lomba memperbarui kurikulum, memperkuat infrastruktur teknologi, serta meningkatkan standar mutu pendidikan.
Namun, di balik semua perubahan tersebut, terdapat satu faktor yang tetap menjadi penentu utama keberhasilan sebuah lembaga pendidikan, yaitu kualitas kepemimpinan. UNESCO Global Education Monitoring (GEM) Report 2024/2025 menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan salah satu faktor terpenting dalam meningkatkan mutu pendidikan, setelah kualitas pembelajaran.
Bagi lembaga pendidikan Islam, tantangan yang dihadapi tidak hanya sebatas mengikuti perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang begitu cepat. Yang tidak kalah penting adalah menjaga identitas dan nilai-nilai keislaman di tengah derasnya arus modernisasi.
Oleh karena itu, kepemimpinan dalam pendidikan Islam tidak boleh dipahami semata-mata sebagai jabatan atau fungsi manajerial, melainkan sebagai amanah untuk membimbing, membina, dan membentuk generasi masa depan melalui pendidikan.
Kepemimpinan Tidak Boleh Terjebak pada Administrasi
Dalam praktiknya, masih banyak pemimpin lembaga pendidikan yang mengukur keberhasilan dari kemampuan menyelesaikan urusan administrasi, memperoleh akreditasi, atau memenuhi indikator kinerja institusi.
Meskipun aspek-aspek tersebut merupakan bagian penting dari tata kelola yang baik, kepemimpinan yang hanya berorientasi pada administrasi cenderung menghasilkan organisasi yang tertib secara prosedural, tetapi miskin inovasi dan kurang mampu menciptakan perubahan yang bermakna.
UNESCO menunjukkan bahwa para kepala sekolah di banyak negara masih menghabiskan sebagian besar waktunya untuk pekerjaan administratif dibandingkan dengan memimpin proses pembelajaran. Akibatnya, kesempatan untuk membina guru, membangun budaya belajar yang kuat, dan meningkatkan hasil belajar peserta didik menjadi berkurang.
Realitas ini juga tampak pada banyak madrasah dan perguruan tinggi Islam yang masih dibebani berbagai urusan administratif sehingga energi kepemimpinan terserap pada rutinitas birokrasi, bukan pada peningkatan kualitas pendidikan.
Integritas dan Budaya Akademik sebagai Fondasi
Dalam perspektif Islam, kepemimpinan bukan sekadar persoalan kewenangan, melainkan juga tanggung jawab moral. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa seseorang tidak layak memimpin orang lain sebelum mampu memimpin dirinya sendiri. Dengan demikian, legitimasi kepemimpinan tidak hanya berasal dari jabatan formal, tetapi juga dari integritas, keteladanan, dan komitmen dalam menjalankan amanah.
Pandangan tersebut sejalan dengan konsep ‘asabiyyah yang dikemukakan oleh Ibn Khaldun, yaitu semangat persatuan dan solidaritas sosial yang menjadi fondasi lahirnya institusi yang kuat. Dalam dunia pendidikan, ‘asabiyyah diwujudkan melalui budaya akademik yang sehat, ditandai dengan kolaborasi, saling percaya, penghargaan terhadap gagasan, serta komitmen bersama terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.
Lembaga pendidikan yang memiliki budaya belajar dan riset yang kuat cenderung lebih adaptif terhadap perubahan dibandingkan lembaga yang hanya mengandalkan aturan dan prosedur formal.
Transformasi Berbasis Nilai
Tantangan zaman menuntut lembaga pendidikan Islam untuk terus melakukan transformasi. Namun, transformasi tidak boleh dipahami semata-mata sebagai digitalisasi atau modernisasi tata kelola. Transformasi harus tetap berpijak pada nilai-nilai Islam sebagai ruh pendidikan.
Syed Muhammad Naquib al-Attas menyatakan bahwa krisis terbesar dalam pendidikan modern adalah hilangnya adab. Adab merupakan pemahaman yang benar mengenai hakikat ilmu dan tujuan pendidikan. Ketika adab hilang, manusia kehilangan orientasi terhadap makna sejati dari proses belajar.
Oleh sebab itu, para pemimpin lembaga pendidikan Islam perlu memadukan profesionalisme modern dengan nilai-nilai Islam seperti amanah, kejujuran (ṣidq), keadilan (‘adl), dan keteladanan (uswah hasanah). Dengan demikian, kemajuan teknologi benar-benar menjadi sarana untuk memanusiakan manusia, bukan sekadar mempercepat proses birokrasi.
Kepemimpinan sebagai Amanah Peradaban
Masa depan pendidikan Islam sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang dimiliki lembaga-lembaga pendidikannya. Pemimpin yang efektif bukan hanya mampu memastikan organisasi berjalan secara efisien, tetapi juga memiliki visi yang menginspirasi perubahan. Mereka membangun ekosistem pembelajaran yang mendorong seluruh warga lembaga untuk terus berkembang, sekaligus menjaga nilai-nilai Islam tetap hidup dan relevan di tengah dinamika global.
Berbagai penelitian internasional terbaru menunjukkan bahwa kepemimpinan yang berorientasi pada pembelajaran mampu meningkatkan profesionalisme guru, memperkuat kapasitas organisasi dalam belajar, serta menghasilkan kualitas pendidikan yang lebih baik.
Temuan tersebut menegaskan bahwa investasi terbesar dalam dunia pendidikan bukan hanya pembangunan gedung atau penyediaan teknologi, melainkan juga pengembangan pemimpin pendidikan yang kompeten, visioner, dan berintegritas.
Pada akhirnya, kepemimpinan dalam pendidikan Islam tidak boleh dipandang sekadar sebagai simbol kekuasaan atau jabatan struktural. Kepemimpinan adalah amanah peradaban. Para pemimpin lembaga pendidikan hari ini sedang mempersiapkan generasi yang akan menentukan masa depan umat, bangsa, dan dunia.
Karena itu, membangun kepemimpinan yang visioner, berintegritas, profesional, serta berlandaskan nilai-nilai Islam bukan lagi sebuah pilihan yang dapat ditunda, melainkan sebuah kebutuhan yang harus diwujudkan sekarang juga.
Penulis adalah Dosen Universitas Islam An Nadwah Kuala Tungkal
