Oleh: Ana Maria Atari Angelin
Kritik diambil dari bahasa Yunani, yaitu kata krenein yang berarti mengamati, menimbang, memisahkan, dan membandingkan. Menurut KBBI Edisi Kelima Pertunjukan berarti sesuatu yang dipertunjukan, biasanya ditujukan untuk dinikmati oleh khalayak. Kritik seni pertunjukan berupa ulasan atau komentar terhadap karya atau pertunjukan dengan peningkatan apresiasi serta evaluasi terhadap kualitas suatu pertunjukan. Maka dari itu, kritik berperan sebagai perantara kepentingan antara pencipta seni dengan penikmatnya melalui karya yang ia tampilkan.
Bentuk apresiasi terhadap seni pertunjukan salah satunya adalah musik. Musik dimaknai sebagai sesuatu karya intrumental yang harmoni dan dikombinasikan dengan kemampuan vokal seorang musisi, hal tersebut bertujuan untuk mengekspresikan sesuatu yang bersifat emosional. Musik begitu dekat dengan para penikmatnya karena dapat menggambarkan suasana hati melalui alunan musik yang syahdu dan nyaman untuk didengarkan. Pantas saja, musik selalu memberi kesan disetiap pertunjukannya.
Lagu Panah Asmara pertama kali dipopulerkan dan diciptakan pada tahun 2004 oleh penyanyi legendaris Chrisye lewat albumnya Senyawa. Kemudian tahun 2011, lagu tersebut diaransemen dan dinyanyikan oleh Afgan dengan nuansa pop.
Jakarta Internasional Stadium menyelenggarakan pertunjukan musik yang ditampilkan oleh penyanyi solo Afgan Syahreza dengan membawakan salah satu lagu andalannya Panah Asmara. Pertunjukan musik yang bisa dinikmati oleh khalayak umum lewat kanal Youtube Afgan dengan durasi 5 menit 14 detik. Lagu yang sedang viral di jejaring sosial Tik Tok akhir tahun 2021 hingga awal tahun 2022 ini mencuri banyak perhatian dan masuk list dalam penampilan Afgan dalam acara tersebut.
Pertunjukan diawali oleh perpaduan alat musik bass, gitar, keyboard, dan drum yang energik, lalu diiringi vokal Afgan yang merdu dan baking vokal yang membantu mengharmonikan musik. Lagu tersebut memiliki makna seseorang yang tengah jatuh cinta dan memberanikan untuk menyatakan cintanya, sehingga musik yang energik sangat cocok untuk membangkitkan semangat dalam lagu tersebut.
Pertunjukan musik ini unik, tidak seperti pertunjukan musik pada umumnya yang tampil di atas panggung langsung menghadap penonton. Mungkin karena stadium yang masih baru, sehingga pertunjukan bisa ditampilkan di antara tribun penonton. Bagian para pemain alat musik berada di atas tribun penonton, sedangkan Afgan dan baking vokal berada di tribun penonton.
Penonton menjadi elemen terpenting dalam pertunjukan. Tidak adanya penonton karena masa pandemi membuat penampilan tersebut kurang euforia. Tempat sebesar stadium tanpa adanya penonton dan musik yang energik membuat suara vokal Afgan yang merdu, serta nadanya yang rendah saat intro kurang terdengar. Namun kendati demikian, harmonisasi antara instrumen musik dan musisi tetap indah sampai akhir pertunjukan.
Afgan dalam menampilkan lagu Panah Asmara di Jakarta Internasional Stadium ini patut untuk diapresiasi. Bagaimana Afgan menjadi obat rindu bagi penggemarnya dan juga khalayak umum terhadap karyanya, serta kerinduan terhadap pertunjukan musik yang selama masa pandemi ditiadakan.
Saya mengharapkan dengan adanya artikel ini bertujuan untuk memberikan masukan serta mengevaluasi seni pertunjukan yang ada di Indonesia sehingga terus berkembang.
Referensi: https://youtu.be/G4mxTzmCMq4
Penulis adalah Mahasiswa Universitas Pamulang








Discussion about this post