Oleh : Lena Rahmawati
Dalam pembelajaran juga memiliki emosional, yaitu suatu cara baru untuk membesarkan anak. Mempelajari perkembangan kepribadian anak, intelligence quotient (IQ) merupakan salah satu alat yang banyak digunakan untuk lebih mengetahui suatu perkembangan.
Namun, berkembangnya suatu alat yang disebut emotional quotient (EQ) yang oleh para pakar dianggap sebagai salah satu alat yang baik untuk mengukur kecerdasan emosional anak. Menurut Lawrence Shapiro (2007), kecerdasan emosional anak dapat dilihat pada keuletan, optimisme, motivasi diri, dan antusiasme. Pengukurannya juga bukan didasarkan pada kepintaran seseorang anak, tetapi melalui sesuatu yang disebut karakteristik pribadi atau karakter seseorang.
Kemudian, apa itu kecerdasan emosional? Istilah kecerdasan emosional pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas emosional yang sangat penting untuk keberhasilan.
Ada beberapa kualitas, yaitu memiliki rasa empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan dalam menyesuaikan diri, selalu berdiskusi dalam suatu permasalahan, kemampuan memecahkan masalah antarpribadi, memiliki ketekunan, kesetiakawanan, keramahan, dan sikap saling menghormati sesama manusia.
Keterampilan AQ juga dapat membuat anak atau peserta didik memiliki semangat yang tinggi dalam belajar. Peserta didik yang memiliki AQ tinggi sangat mudah berinteraksi dengan orang lain, juga dapat membantunya di kemudian hari ketika sudah masuk dunia kerja atau ketika sudah berkeluarga.
Kemudian, aspek intelektual harus diimbangi dengan kondisi emosional yang stabil agar mendukung iklim kerja yang baik.
Selain aspek intelektual, kompetensi sosial emosional bagi peserta didik dalam proses pembelajaran juga tak kalah pentingnya. Sosial emosional dapat membantu peserta didik untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih positif dan bertanggung jawab.
Jadi, hal tersebut juga memiliki kesadaran diri yang mampu memberikan motivasi untuk terus menunjang pendidikan, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta mengurangi tekanan emosional di dalam kelas. Ini juga dapat mengurangi perilaku yang bersifat intimidatif serta menciptakan iklim kelas yang lebih positif.
Dengan itu, juga harus didukung oleh kemampuan guru dalam mengelola kelas dan pembelajaran yang baik pula.
Walaupun emosi dan stres merupakan bagian normal dalam kehidupan sehari-hari, keterampilan dalam mengelola emosi dan mengatasi stres menjadi tantangan yang harus dikembangkan dalam pembelajaran sosial emosional bagi peserta didik. Sosial emosional bagi peserta didik juga sangat penting untuk mendukung kesuksesan mereka saat memasuki dunia kerja nanti.
Konteks anatomi saraf emosi yang menentukan emosional seseorang terdiri dari empat lobus (belahan otak). Kerusakan pada lobus tentu akan mengakibatkan masalah tertentu pula. Misalnya, lobus oksipitalis, yang terletak di bagian belakang kepala, merupakan bagian otak yang mengendalikan fungsi penglihatan.
Selain dipandang sebagai bagian berpikir otak, konteks ini juga berperan penting dalam memahami kecerdasan emosional. Mengendalikan emosi melalui pemecahan masalah dengan bahasa dan daya cipta.
Keberhasilan dalam belajar, guru juga perlu menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif dan menyenangkan, serta menggunakan metode interaktif, contohnya seperti diskusi untuk meningkatkan keterampilan peserta didik.
Selain itu, dukungan orang tua juga sangat penting dalam menumbuhkan kecerdasan emosional itu, sehingga keterampilan sosial dapat membantu mengatasi emosi dan membangun hubungan yang lebih positif. Guru juga dapat mengajarkan teknik mengelola stres dan emosi untuk membantu peserta didik mengidentifikasi dan mengelola apa yang mereka rasakan.
Dari itu, di setiap sekolah harus memiliki guru pembimbing, yaitu guru bimbingan dan konseling, agar dapat menumbuhkan hubungan positif, yaitu hubungan saling percaya antara guru dan siswa. Aspek ini juga sangat penting untuk mendukung kesejahteraan emosional peserta didik dalam suatu perasaan dan masalah yang sedang mereka hadapi.
Pendidikan tidak hanya tentang akademik, tetapi juga tentang perkembangan pribadi dan sosial peserta didik. Pembelajaran sosial dan emosional (PSE) adalah suatu komponen yang sangat penting dari pendidikan yang sering diabaikan, meskipun dampaknya sangat besar pada perkembangan peserta didik.
PSE sangat penting karena mendukung perkembangan murid secara holistik, bukan hanya intelektual saja, tetapi juga tentang fisik, emosional, sosial, dan karakter. PSE juga berkaitan dengan pemahaman diri dan empati terhadap orang lain, serta kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi dengan efektif.
Jadi, perkembangan kecerdasan emosional siswa membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak dan berbagai kegiatan yang sangat mendukung menuju tingkat kecerdasan emosional yang baik.
Sebagai peserta didik dengan gangguan emosional seperti stres, kecemasan, depresi, bahkan kasus bunuh diri pada usia remaja disebabkan oleh kurangnya perkembangan sosial dan emosional para peserta didik. Maka dari pembelajaran, kita dapat menumbuhkan kemampuan sosial dan emosional dalam proses pendidikan.
Penulis adalah Mahasiswi Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
