Penggunaan Gedget dalam Mendukung Pembelajaran

Oleh : Dewi Sekar Sprianti

Menurut Pendidikan Nasional di Indonesia (Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, Bab 1 Pasal 1), pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Jadi, diperlukan adanya pendidikan dan metode pembelajaran yang efektif, sistematik, terencana, berproses, dan terevaluasi, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai sesuai yang diinginkan. Dengan perkembangan zaman dan teknologi untuk mendukung proses belajar mengajar saat ini, tentu tidak lepas dari penggunaan gadget.

Peserta didik milenial tidak jauh dari generasi Z di era akhir zaman ini. Perkembangan teknologi sangat pesat, termasuk di antaranya gadget (handphone, laptop, tablet, papan tulis digital (interactive whiteboard), atau alat bantu lainnya).

Proses belajar mengajar tidak hanya menggunakan cara penjabaran materi manual di papan tulis. Penyediaan papan tulis digital di sekolah-sekolah atau kampus dapat mempermudah siswa dan mahasiswa dalam proses belajar mengajar.

Baca Juga :  Pendidikan Berkarakter Akan Melahirkan Individu yang Profesional

Guru dapat menggunakan metode pembelajaran dengan materi video yang menarik dan menyenangkan yang akan ditampilkan melalui papan tulis digital, sehingga para siswa dapat menyaksikannya bersama-sama.

Metode ini dapat dilakukan untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosan peserta didik. Bagi mahasiswa, ini juga dapat mempermudah proses pembelajaran di kelas, misalnya saat melakukan diskusi dengan menampilkan hasil penelitian di papan tulis digital.

Kita juga bisa mengambil contoh saat pandemi COVID-19, di mana pembelajaran para siswa sangat terhambat karena social distancing yang melarang berkumpul lebih dari dua orang. Dalam kondisi itu, gadget sangat berguna untuk proses pembelajaran peserta didik melalui Zoom, tugas online, dan ujian-ujian online.

Selama dua tahun, proses pembelajaran tatap muka di Indonesia ditiadakan, yang sangat berpengaruh terhadap pendidikan di tanah air. Apabila kita tidak memanfaatkan teknologi modern saat ini, pendidikan tentunya tidak terlepas dari media berbasis teknologi atau aplikasi yang semakin beragam. Berbagai gadget diciptakan untuk mempermudah kita. Dengan adanya alat bantu tersebut, diharapkan dapat mendukung pendidikan di Indonesia.

Baca Juga :  Al Haris: Sosok Gubernur Jambi yang Merakyat Lewat Kebijakan

Seperti yang kita ketahui, gadget juga dilengkapi dengan perangkat lunak (software) dan aplikasi-aplikasi di dalam gadget seperti handphone, laptop, dan fitur canggih lainnya.

Gadget tersebut dilengkapi dengan situs-situs online yang menyediakan informasi yang kita cari tentang dunia, seperti jurnal, artikel, maupun buku yang dapat kita bagikan melalui handphone/laptop di mana pun tanpa harus mencari di perpustakaan.

Hal ini dapat mempermudah siswa untuk menjawab pertanyaan atau mendapatkan informasi, terutama dengan jadwal pembelajaran yang padat. Penggunaan media tersebut diharapkan dapat menunjang berjalannya proses belajar mengajar secara efektif dan efisien.

Adapun aplikasi yang terdapat pada gadget yang bisa mendukung proses belajar mengajar peserta didik yang sedang viral saat ini antara lain Facebook, TikTok, Instagram, Twitter, YouTube, dan lain-lain. Dengan ketersediaan aplikasi yang beragam tersebut, tentunya dapat mendukung proses belajar siswa.

Penggunaan aplikasi, khususnya media sosial, pada pembelajaran sangat padat di kalangan peserta didik, terutama di kalangan siswa sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah atas. Kebebasan yang diberikan kepada peserta didik untuk memiliki handphone oleh orang tua membuat media sosial semakin digandrungi. Media sosial sering digunakan oleh siswa, bahkan melekat dalam kehidupan sehari-hari (Fajar & Machmud, 2020).

Baca Juga :  Takjil Ramadan "Diburu" Semua Kalangan, Titik Temu Antar Agama

Yang paling viral adalah pembuatan konten-konten kreatif yang dilakukan oleh konten kreator, dengan mengunggah video semenarik mungkin. Namun, dampak negatif dari banyaknya konten yang tersebar di media sosial juga tidak sedikit, di mana terdapat konten yang tidak pantas yang ditampilkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Hal ini dapat mempengaruhi pola pikir peserta didik, di mana banyak siswa mengikuti video yang sedang viral. Pernyataan tersebut menjadi tantangan bagi pendidik untuk mengawasi dan memberikan edukasi kepada siswa-siswi dalam penggunaan gadget dan media sosial.

Bukan hanya pendidik, peran orang tua juga sangat diperlukan dalam mengatasi pengaruh buruk dari penggunaan gadget dan media sosial.

Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Universitas Islam Sulthan Thaha Saifudin Jambi