Oleh : Fransisko Chaniago, M.Pd.
Hari Guru diperingati setiap tahun pada tanggal 25 November sebagai bentuk penghormatan kepada guru sebagai pendidik. Kita perlu merefleksikan kembali bagaimana ajaran Islam dapat menjadi landasan untuk meningkatkan penghargaan terhadap guru, yang diberi kedudukan sangat mulia karena peranannya dalam menyampaikan ilmu pengetahuan kepada umat manusia.
Guru berperan sebagai pembimbing yang menuntun dan membantu seseorang dalam menuntut ilmu. Dalam ajaran Islam, guru dihormati sebagai perantara yang menghubungkan individu dengan ilmu yang membawa siswa lebih dekat kepada Allah. Guru memang layak menyandang gelar pahlawan tanpa tanda jasa.
Integritas dan kesabarannya dalam mentransfer ilmu ibarat pelita yang menerangi jalan menuju masa depan. Cara guru berpikir, bersikap, dan berjuang sering menjadi pelajaran berharga yang tidak tertulis di buku teks, tetapi justru paling melekat dalam ingatan.
Hari Guru sering dianggap sebagai seremonial yang identik dengan perayaan dari pelajar untuk guru di sekolah. Namun peringatan ini memiliki makna yang jauh lebih mendalam sebagai wujud apresiasi dan ucapan terima kasih kepada guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi pemberi pengalaman, penjaga nilai, serta pembentuk karakter.
Selain itu, peringatan ini juga mengakui peran guru sebagai cahaya penuntun. Seorang pelajar mungkin melupakan rumus atau tanggal sejarah, tetapi jarang lupa bagaimana guru membuat pelajar merasa dihargai, didengar, dan diyakinkan akan kemampuannya. Di situlah letak kekuatan sejati seorang guru.
Momen peringatan Hari Guru membuka mata pelajar terhadap sisi lain profesi guru yang jarang terlihat. Banyak yang belum menyadari bahwa tugas guru tidak semata-mata mengajar, tetapi juga menjalani hari-hari panjang, menguji kesabaran melampaui batas, dan terus berusaha menemukan solusi di tengah berbagai keterbatasan.
Namun, tidak semua siswa memiliki kesadaran yang sama. Fenomena yang sering muncul, sebagian pelajar melupakan atau tidak peduli terhadap Hari Guru. Ada yang menganggapnya hanya hari biasa, atau merasa perayaan hari guru tidak memiliki dampak apa pun. Ketidakpedulian ini menunjukkan semakin kaburnya pemahaman tentang besarnya peran guru dalam kehidupan, sebuah ironi di tengah tuntutan pendidikan masa kini.
Fenomena lain yang memperburuk penghargaan terhadap guru terjadi ketika siswa mendapat teguran atau dimarahi karena pelanggaran, namun orang tua justru tidak terima. Alih-alih memahami niat guru yang ingin mendidik dan membentuk kedisiplinan, sebagian orang tua menyalahkan pihak sekolah. Sikap ini melemahkan wibawa guru dan membuat siswa merasa selalu benar, sehingga rasa hormat dan kepedulian terhadap guru semakin berkurang. Situasi ini menunjukkan pentingnya kerja sama antara sekolah dan orang tua dalam menumbuhkan kembali penghargaan terhadap guru sebagai pendidik dan pembimbing.
Peringatan Hari Guru juga memiliki sisi unik yang membedakannya dari perayaan lain. Biasanya ditandai dengan kegiatan kreatif seperti pertunjukan seni, perlombaan, atau pemberian pesan dan kartu ucapan yang dibuat sendiri. Beberapa sekolah bahkan mengadakan sesi “guru untuk sehari,” di mana pelajar merasakan pengalaman mengajar sehingga lebih memahami kesulitan dan tanggung jawab guru. Keunikan ini menjadikan Hari Guru bukan sekadar formalitas, tetapi momen interaktif yang membangun empati, kreativitas, dan rasa hormat pelajar terhadap guru.
Dengan ditetapkannya Hari Guru setiap tahunnya, momen ini menjadi pengakuan resmi atas jasa dan dedikasi guru. Perayaan ini tidak hanya memberikan penghargaan bagi guru sebagai pendidik, tetapi juga mengingatkan masyarakat akan peran guru sebagai pilar utama pendidikan.
Penulis adalah Dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
