Seksisme Merajalela, Perempuan Jadi Bahan Objektifitas

Oleh: Alsyabana Dya Rachmawati

Budaya kontemporer yang kian marak di kalangan masyarakat menjadi salah satu bentuk kebebasan berekspresi bagi siapapun terutama para penikmat seni.

Berbagai media dapat digunakan untuk merepresentasikan ide, pemikiran, pandangan hingga kepentingan pribadi yang tanpa disadari di dalamnya bisa saja mengandung unsur seksisme.

Seksisme merupakan suatu prasangka yang mendiskreditkan pada salah satu gender. Akan tetapi, seksisme ini seringkali diterima oleh kaum perempuan yang memunculkan adanya stigma atau penilaian negatif terhadap perempuan.

Perempuan seakan-akan menjadi suatu barang yang mudah untuk dijadikan objek. Budaya kontemporer yang kemudian dibalut dengan fenomena patriarki terhadap kaum perempuan menjadi paket lengkap adanya objektifitas.

Selama perempuan tetap berdiam diri dan tidak berani mendobrak budaya kontemporer yang patriarki ini, jangan harap seksisme dan objektifitas terhadap kaumnya dapat dihentikan.

Baca Juga :  Candi Muaro Jambi

Selama ini, sudah banyak sekali bertebaran kalimat-kalimat seksis yang merepresentasikan perempuan sebagai kaum rendahan yang hanya dapat dijadikan bahan objektifitas.

Dalam suatu iklan seringkali ditemui penggambaran perempuan ideal adalah yang berkulit putih dan bercahaya.

Iklan tersebut tidak hanya memberikan kesan kepuasan kepada laki-laki, namun juga memberikan kepuasan tersendiri bagi perempuan yang merasa dirinya presentable, acceptable, dihargai, dan dibutuhkan oleh laki-laki, padahal secara implisit perempuan telah direpresentasikan secara pasif dan materialistik, dikutip, Sabtu (24/12/2022) dalam jurnal SATWIKA karya Eggy dan Arti (2018).

Perempuan hanya dianggap sebagai objek yang dapat memikat mata lawan jenis dan mendongkrak minat pasar.

Ironisnya, di zaman yang katanya sudah “melek” media dan pengetahuan ini, masih sering ditemui adanya seksisme. Adanya perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan menciptakan banyak ketidakadilan meskipun tidak menutup kemungkinan jika laki-laki dapat juga menjadi korban ketidakadilan gender.

Baca Juga :  Mengatasi Perubahan Garis Pantai Melalui Mitigasi Terhadap Abrasi Pantai di Wilayah Pesisir Kabupaten Tanjab Timur

Representasi perempuan dijadikan bahan objektifitas dapat terlihat dengan jelas pada beberapa fenomena yang dekat dengan kehidupan.

Misalnya, gambar belakang truk yang seringkali terdapat lukisan perempuan yang sedang berpose seksi diiringi dengan berbagai bahasa seksis sebagai pelengkapnya, seperti “Kutunggu kedatanganmu” dan masih banyak lagi.

Hal tersebut menjadi wujud nyata dimana perempuan merupakan sasaran empuk objektifitas dan dipandang rendah oleh banyak orang.

Dari banyaknya contoh di atas, tentunya banyak perempuan yang merasa tidak nyaman dan direndahkan. Padahal, sekarang ini sudah banyak perempuan yang sadar akan kualitas dirinya. Berusaha mati-matian untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi agar stigma masyarakat tidak lagi memandang perempuan sebagai kaum yang lebih rendah daripada laki-laki.

Baca Juga :  Dampak Kesenjangan Sosial Bagi Pendidikan dan Peserta Dididik

Setiap orang bisa jadi pemimpin. Setiap orang berhak untuk bermimpi dan meningkatkan kualitas diri, tidak terkecuali bagi kaum perempuan. Menempuh pendidikan yang tinggi, mengikuti banyak kegiatan positif yang menunjang karir, berpengetahuan luas dan menambah relasi merupakan beberapa hal kecil yang dapat dijadikan dobrakan yang luar biasa.

Sudah banyak perempuan yang berhasil menjadi pembicara, duta besar negara hingga menjadi pemimpin suatu negara. Hal tersebut adalah bentuk bukti nyata bahwa kaum perempuan tidak dapat dipandang sebelah mata.

Penulis adalah Mahasiswi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Ampel Surabaya