BITNews.id – Pelatih Shin Tae-yong tampaknya masih belum puas dengan kinerja para striker Timnas Indonesia di Piala AFF 2020. Terkini, pelatih asal Korea Selatan itu merombak barisan lini depan timnas jelang pertandingan di Bali.
Seperti dilansir pada kumparan.com, Timnas Indonesia memiliki agenda pemusatan latihan sekaligus pertandingan uji coba melawan Timor Leste di Bali pada 19 hingga 28 Januari. Laga itu dipastikan bakal masuk ke dalam kalender resmi FIFA.
Total, Shin Tae-yong mengikutsertakan 27 pemain ke agenda kali ini. 19 di antaranya merupakan penggawa timnas di Piala AFF 2020 beberapa waktu lalu. Perubahan besar-besaran terjadi di lini depan timnas.
Di Piala AFF 2020, Shin Tae-yong memanggil empat striker, yakni Dedik Setiawan, Kushedya Hari Yudo, Hanis Saghara Putra, dan Ezra Harm Ruud Walian.
Di skuad kali ini, hanya Dedik dan Hanis yang kembali dipanggil. Untuk melengkapi komposisi tim, Shin kemudian memanggil striker Arema FC, Muhammad Rafli.
Besar kemungkinan, hal ini ia lakukan sebab performa striker Timnas Indonesia di Piala AFF 2020 kurang moncer. Shin kerap melakukan rotasi di lini depan sepanjang turnamen.
Ezra Walian sebenarnya memiliki menit bermain yang cukup banyak dibanding striker lainnya. Ia tampil sepanjang kompetisi, lalu absen di dua laga final.
Ezra juga punya koleksi dua gol. Kendati sering diturunkan, Ezra nyatanya hanya sekali tampil sepanjang 90 menit penuh.
Sementara, Yudo, menit bermainnya di Piala AFF 2020 amat minim. Ia hanya tampil tiga kali tanpa sekali pun mencetak gol dan turun 90 menit. Penampilan terlama Yudo adalah di laga kedua babak grup melawan Laos, yakni 45 menit.
Dua nama yang dipertahankan, yakni Dedik dan Hanis, sebenarnya juga tidak memiliki banyak kesempatan bermain di Piala AFF. Dedik dan Hanis sama-sama tampil empat kali. Mereka kompak gagal mencetak gol.
Jika menilik komposisi striker timnas, Shin Tae-yong memang lebih senang memainkan striker fleksibel, alih-alih seorang target man.
Tipikal penyerang yang ia panggil adalah pemain yang bisa turun menjemput bola hingga membuka ruang bagi para gelandang untuk masuk ke kotak penalti lawan.
Lantas, apakah Muhammad Rafli bisa menjadi solusi permasalahan ini? Menarik dinantikan.
Sumber: kumparan.com
